Review Film Waham: Senator Lia Istifhama Puji Karya Mahasiswa UBSI tentang Kesehatan Mental

Review Film Waham: Senator Lia Istifhama Puji Karya Mahasiswa UBSI tentang Kesehatan Mental

SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Isu kesehatan mental kembali menjadi sorotan melalui karya sinematik mahasiswa Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) berjudul "Waham (Cut Scene)".

Film pendek ini mendapatkan apresiasi khusus dari Anggota DPD RI, Lia Istifhama, yang menilai karya tersebut sebagai representasi emosional yang mendalam mengenai kondisi psikologis manusia modern.

Eksplorasi Labirin Pikiran dalam Film 'Waham'

Film ini menceritakan perjalanan Andrew Jay, seorang mahasiswa yang tampak menjalani hidup normal namun perlahan terjebak dalam retakan pikirannya sendiri. Melalui visual yang apik, penonton diajak menyaksikan bagaimana logika kehilangan pijakan, di mana suara-suara membisu dan waktu terasa seperti lingkaran tanpa ujung.

Senator muda yang akrab disapa Ning Lia ini memberikan pujian atas keberanian para kreator muda dalam menyentuh batas tipis antara kenyataan dan ilusi.

"Kehadiran sosok misterius yang menemani Andrew bukan sekadar bumbu cerita, melainkan representasi dari upaya pikiran manusia untuk bertahan di tengah kehancuran internal yang hebat," ulas Lia Istifhama saat membedah kedalaman emosi film tersebut.

Estetika Visual dan Pesan Moral yang Mendalam

Dari sisi produksi, "Waham" dinilai berhasil menyusun potongan memori yang tidak utuh menjadi narasi yang menghantui. Estetika visualnya bukan sekadar aspek teknis, melainkan bahasa visual yang mengabarkan penderitaan batin yang sering kali kasat mata.

Lia menyatakan bahwa film ini merupakan bentuk pengabdian intelektual mahasiswa UBSI dalam menyuarakan isu sosial yang krusial.

"Karya ini membuktikan bahwa anak muda mampu menghasilkan konten yang berkualitas tinggi sekaligus memiliki pesan moral yang mendalam bagi masyarakat luas," tambahnya.

Refleksi Tentang Realitas dan Empati

Di akhir ulasannya, Lia Istifhama menekankan bahwa pertanyaan besar yang ditinggalkan oleh karakter Andrew Jay adalah tentang hakikat realitas. Apakah dunia di sekitar kita nyata, atau hanya persepsi dari pikiran yang sedang rapuh?

Melalui film ini, mahasiswa UBSI diharapkan mampu membangun empati publik bagi mereka yang tengah berjuang dengan kondisi psikologis serupa. Lia berharap institusi pendidikan terus melahirkan karya bermutu karena film adalah media komunikasi paling efektif untuk memicu perubahan sosial yang positif.