Senin, 22 Juli 2019 09:42

Masyarakat Pantura Lamongan Arak Gundukan Ketupat, Terinspirasi Kesaktian Raden Nur Rahmat

Kamis, 13 Juni 2019 20:27 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Nur Qomar Hadi
Masyarakat Pantura Lamongan Arak Gundukan Ketupat, Terinspirasi Kesaktian Raden Nur Rahmat
Sejumlah warga saat memikul gundukan ketupat.

LAMONGAN, BANGSAONLINE.com - Satu lagi tradisi unik saat hari raya kupatan di Kabupaten Lamongan, adalah memikul dan mengarak gundukan kupat yang disusun menyerupai menara masjid. Tradisi yang baru digaungkan selama 4 tahun belakangan ini, adalah bentuk Raden Nur Rahmat atau yang biasa disapa Sendang Duwur dalam menyebarkan agama Islam di wilayah pesisir pantai utara laut Jawa.

Konon dahulunya, Raden Nur Rahmat diberikan dua buah masjid oleh Mbok Rondo Mantingan. Masjid itu bisa menjadi milik Raden Nur Rahmat asalkan ia bisa memindahkan masjid tersebut dalam hitungan satu hari. "Jadi di titik ini Tanjung kodok ini dahulunya ada dua masjid dan diangkut oleh Raden Nur Rahmat ke atas atau di Sendang Duwur," kata Camat Paciran Fadeli Purwanto, Kamis (13/6)

Alhasil, Raden Nur Rahmat yang mempunyai kelebihan pun bisa memenangkan sayembara tersebut. Masjid-masjid yang diberikan oleh Mbok Rondo Mantingan berhasil ia angkut ke atas. Anehnya, masjid tersebut dibawa naik ke atas oleh beberapa ekor katak. "Konon dahulunya kawanan katak-katak itulah yang membawa masjid itu naik ke gunung atau di sendang duwur, yang berada di atas sana," katanya.

Sebelumnya masyarakat Paciran dan sekitarnya dalam merayakan hari raya kupatan ini secara sendiri-sendiri, dengan mengelar selamatan di rumah mereka masing-masing. Namun karena banyaknya faktor, menyebabkan budaya ini terkikis oleh digitalisasi zaman. Hingga akhirnya muncul sebuah ide, agar budaya ini terus dilestarikan dengan cara dibuat sebuah festival.

"Kegiatan ini baru empat tahun berjalan. Dan sebelumnya masyarakat Paciran tidak mengadakan acara seperti ini," katanya.

Pelestarian budaya yang terus dijalankan setiap tahunnya ini, juga merupakan upaya pemerintah kecamatan Paciran dalam mempromosikan wisata bahari di pesisir pantai utara laut Jawa tersebut. Saat ini sudah terdapat beberapa obyek wisata, baik buatan maupun alam yang sudah mulai menjamur di Paciran.

"Intinya dengan melestarikan budaya tersebut akan mampu menarik wisatawan," ungkapnya.

Sejumlah kesenian, di antaranya jaranan, tongklek dan lainnya juga turut memeriakan acara gebyar ketupat itu. Diperkirakan ada seribu masyarakat dari luar Lamongan yang turut menyaksikan acara tersebut. Gundukan kupat yang menyerupai menara masjid itu di arak dari terminal Paciran menuju Tanjung kodok yang berada di sisi barat Wisata Bahari Lamongan (WBL). (qom/rev) 

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Kamis, 18 Juli 2019 13:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...