Gubernur Jawa Timur, Soekarwo saat upacara 17 Agustus di Gedung Negara Grahadi.
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kritikan Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa bahwa angka kemiskinan di Jawa Timur masih tinggi langsung disikapi oleh Gubernur Jatim, Soekarwo. Gubernur mengakui bahwa angka kemiskinan di Jatim hanya turun 0,08 persen. Untuk itu, Pemprov Jawa Timur saat ini menfokuskan penurunan angka kemiskinan melalui Badan Pemberdayaan Masyarakat (Bapemas).
"Tidak lagi ditangani tujuh SKPD. Sulit koordinasinya, jadi kalau per sektor ngurusi kemiskinan itu sulit. Jadi fokus Bapemas agar tahu bisa atau tidak,” ujar Soekarwo, Kamis (17/8).
BACA JUGA:
- Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026, Gubernur Khofifah Hadir di Layanan Kegiatan Jawara
- Laksanakan Sholat Idul Adha di Al Akbar, Gubernur Khofifah Serahkan Kurban dari Presiden Prabowo
- Genjot Produktivitas Tebu, Khofifah Pimpin Tanam Perdana Bongkar Ratoon di Kediri
- Pemprov Jatim Gelar BBGRM XXII di Malang
Pejabat yang akrab disapa Pakde karwo itu mengakui selama ini kemiskinan hanya turun 0,08 persen. Untuk itu diupayakan dengan ditangani Bapemas bisa turun 0,78 persen. “Tahun 2018, kita fokuskan penanggulangan kemiskinan di Madura terutama Sampang,” tandas pejabat asal Madiun ini.
Pria yang juga menjabat Ketua DPD Partai Demokrat Jatim tersebut mengaku ketika dilakukan survei, yang menjadi penyebab kemiskinan tidak turun karena beras sejahtera (Rastra) tidak dibagikan oleh Bulog pada bulan Januari dan Februari. Alasannya saat itu harga beras turun, sehingga menteri pertanian mengistruksikan agar rastranya tidak dibagi dulu.
"Akibatnya orang miskin tidak dapat beras,” ungkap mantan sekdaprov Jatim tersebut
Mantan aktivis GMNI ini menegaskan, untuk menghadapi krisis harus ada inovasi manajemen. “Itu sama naik sepeda motor peteng (gelap), lampu tidak ada pakai kacamata hitam lagi. Itu kan salah,” pungkasnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




