ilustrasi
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kegiatan para srikandi dewan yang menggelar arisan bernilai jutaan menuai pandangan miring dari berbagai kalangan. Arisan untuk mengisi waktu luang ini dinilai mencerminkan perilaku yang eksklusif dari kalangan dewan.
Pakar Sosiologi Unair Surabaya Bagong Suyanto mengatakan, arisan itu merupakan simbol eksklusif dari para dewan. Padahal, dewan merupakan wakil rakyat dan mendapat kepercayaan untuk memperjuangkan aspirasi masyarakat bawah.
BACA JUGA:
- DPRD dan Polrestabes Surabaya Perkuat Sinergi Atasi Parkir Liar hingga Kejahatan Digital
- Harkitnas 2026, Pimpinan DPRD Surabaya Perkuat Sinergi dengan Kejari
- Anggota DPRD Surabaya Johari Mustawan Buka Puasa Bersama Jurnalis, Soroti Pemblokiran KTP dan KK
- Pemuda Katolik Jatim Kenang Ketua DPRD Surabaya Adi Sutarwijono sebagai Sosok Rendah Hati
"Mestinya, sebagai anggota dewan lebih memperbanyak simbol populis, misal kegiatan yang mencerminkan kepedulian terhadap masyarakat," ujarnya, Jumat (3/2).
Dosen FISIP Unair ini mengaku prihatin. Sebab, arisan jutaan rupiah itu bisa mencederai psikologi masyarakat yang hidup di tengah himpitan ekonomi. Perekonomian warga sedang goyang akibat sembako terus merangkak naik.
"Saya tidak tahu, apakah lebih banyak kegiatan populis apa yang eksklusif, tapi bagi saya arisan jutaan itu ironis, anggota dewan itu kan representasi masyarakat," tegasnya.
Bagong menegaskan, kegiatan itu mencerminkan gaya hidup dewan yang bisa membuat jarak dengan masyarakat. Tak salah ketika masyarakat semakin hari minim kepercayaan terhadap politisi yang duduk enak di lembaga dewan perwakilan rakyat (DPR).
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




