Kamis, 23 November 2017 05:07

Puncak Haul Ke-7 Gus Dur, Gus Solah: Tebuireng Pusat Pergerakan Memadukan Islam Indonesia

Minggu, 08 Januari 2017 03:32 WIB
Wartawan: Romza, Rony Suhartomo
Puncak Haul Ke-7 Gus Dur, Gus Solah: Tebuireng Pusat Pergerakan Memadukan Islam Indonesia
KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) saat memberikan sambutan dalam acara puncak peringatan haul ke-7 Gus Dur di Ponpes Tebuireng Jombang, Sabtu (7/1) malam. foto : RONY SUHARTOMO/ BANGSAONLINE

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) tidak banyak memaparkan tentang sosok KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) saat memberikan sambutan dalam puncak Peringatan Wafatnya (Haul) ke-7 Gus Dur, Sabtu (7/1) malam. Adik kandung Gus Dur ini lebih mengingatkan tentang kondisi bangsa yang perlu diperhatikan.

Sebab, bagi Gus Solah, sudah ada para pembicara yang akan mengulas lebih jauh tentang Gus Dur dalam kesempatan tersebut.

“Izinkan saya tidak bicara langsung mengenai Gus Dur, tapi saya ingin berbicara tentang yang saat ini terjadi di bangsa ini, yang kesannya mempertentangkan Islam dengan Indonesia,” ujar Gus Solah usai menyampaikan terimakasih kepada yang membantu terselenggaranya agenda tersebut saat memberikan sambutan.

Kemudian ia memaparkan gagasan dan upaya yang dilakukan pendiri bangsa dalam mempertemukan Islam dengan Indonesia. Di antaranya, berdirinya Kementerian Agama pada bulan Januari tahun 1946. “Di sini tentunya kiai-kiai berperan aktif. Itu juga tentunya atas persetujuan KH Hasyim Asy’ari,” katanya.

Lebih lanjut Gus Solah memaparkan, pada tahun 1960, KH Wahid Hasyim (putra KH Hasyim Asy’ari) sebagai menteri Agama menetapkan dasar-dasar kepercayaan agama. Bahkan, beberapa bulan menjabat Menteri Agama, KH Wahid Hasyim yang juga Bapak dari Gus Solah dan Gus Dur itu mengambil kebijakan memadukan antara pendidikan islam dengan pendidikan nasional melalui MoU (memorandum of understanding) bersama menteri pendidikan.

“Yang pertama memberikan pelajaran agama di sekolah-sekolah. Yang kedua mendirikan madrasah,” sebutnya.

Lantas, Gus Solah menyatakan, penyebutan dwi tunggal untuk Soekarno-Wahid Hasyim karena sebagai simbol bersatunya nasionalisme dan keislaman tidak tepat. “Menurut saya sebenarnya lebih tepat (dwi tunggal, red) Soekarno-Hasyim Asy’ari. Karena semua kebijakan Mbah Wahid Hasyim didasarkan pada persetujuan Mbah Hasyim Asy’ari,” bebernya.

Menurutnya, juga tidak salah jika Tebuireng disebut pusat pergerakan memadukan Islam dan Indonesia karena tokoh kunci penggagasnya berasal dari pondok tersebut. “Oleh karena itu, tidak berlebihan menurut saya kalau disebutkan bahwa Tebuireng adalah pusat dari pergerakan untuk memadukan Islam dan Indonesia,” terangnya.

Terkait persoalan-persoalan agama dan nasionalisme yang saat ini masih terjadi di Indonesia, Gus Solah mengajak agar segera diatasi.

“Sekarang ini gonjang-ganjing, kalau dibiarkan tidak ada langkah untuk mengatasinya akan membesar dan mengancam persatuan Indonesia. Saya melihat keadaan semacam ini, kemarin mengajak civitas akademika Unhasy dan Pesantren Tebuireng untuk melakukan kajian-kajian yang menyeluruh. Mudah-mudahan pada bulan Januari ini menemukan hasil bagaimana kita menanggapi yang sekarang terjadi. Paling tidak kita tentunya menyadarkan pihak-pihak yang berbeda pendapat dengan kita. Dengan cara yang baik tentunya,” tandas Gus Solah.

Selain tuan rumah Gus Solah dan Ny Faridah Salahuddin Wahid, sejumlah tamu juga hadir dalam kesempatan tersebut. Diantaranya, Anregurutta KH Sanusi Baco, mantan Rais Syuriah PWNU Sulawesi Selatan yang juga teman akrab Gus Dur selama belajar di Universitas Al-Azhar. Kemudian mantan Duta Besar RI untuk Lebanon, Abdullah Syarwani dan Cendekiawan Muslim Habib Chirzin. Tampak juga Wakil Bupati Jombang Mundjidah Wahab. (rom/rev)

Rabu, 22 November 2017 10:04 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*TANGGAL 21 November 2017 kemarin diperingati secara internasional sebagai Hari Pohon. Gerakan tanam pohon untuk bersedekah oksigen nyaris tidak terdengar secara massal di belantara ontran-ontran dramatik Ketua DPR RI Setya N...
Sabtu, 04 November 2017 19:50 WIB
​Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KHA Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   Subhaana alladzii asraa bi’abdihi laylan mina almasjidi alharaami ilaa almasjidi al-aqshaa alladzii baaraknaa hawlahu linuriyahu min aayaatinaa innahu huwa alssamii’u albashiiru (1).Setelah du...
Oleh: Dr. KH. Imam Ghazali Said., MA
Sabtu, 11 November 2017 10:48 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Kamis, 16 November 2017 12:03 WIB
LONDON, BANGSAONLINE.com - Chelsea Louise Thompson, artis berusia 27 tahun ini pamer lekuk tubuh indahnya, di kamar mandi. Foto telanjangnya diupload dengan caption: Waktu mandi.Dalam foto itu, tampak satu lengannya dipergunakan untuk menut...