Sumur Sritanjung, Simpan Filosofi Budaya Banyuwangi

Sumur Sritanjung, Simpan Filosofi Budaya Banyuwangi

Di area sumur itu sendiri, terdapat sebuah bokor yang digunakan untuk meletakan dupa juga baskom untuk tempat sisa pembakaran dupa dan tempat sesaji berupa tiga jenis bunga seperti bunga kantil kuning, bunga kantil putih dan bunga kenanga. Kadang kala, bisa bunga melati. Dan bunga sesajen yang dipergunakan tidak boleh bunga yang berwarna merah.

Rusman menambahkan, selain warga lokal dan wisatawan domestik, juga banyak tamu asing dari negara negara di Asia Tenggara, termasuk dari Mesir, Jepang, Australia, Selandia Baru dan China.

“Mereka datang ke sini hanya melakukan ritual di sumur Sritanjung. Hari kunjungan yang ramai pada hari Selasa kliwon, Jum’at kliwon, Selasa legi dan Jum’at legi. Waktu kunjung paling banyak, pada malam hari,

“Tergantung niat dan tujuannya. Saya menegaskan siapa saja yang datang di sumur Sritanjung ini harus berdoa menurut keyakinanya masing-masing. Karena banyak orang yang menyalahgunakan, menganggap aura sumur ini bisa menyembuhkan penyakit. Padahal yang bisa nyembukan penyakit itu hanya Tuhan,” katanya

Sesekali, sumur itu kadang mengeluarkan bau wangi. Hal ini, terang Rusman, adalah tanda tanda akan ada peristiwa penting. “Bau harum pada air sumur berkaitan dengan yang baik-baik, sedang bau amis pada bau sumur biasanya para pejabat Banyuwangi terkena masalah.(bwi1/rev)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO