Senin, 26 Agustus 2019 10:53

Tolak Berpangku Tangan, Perjuangan Mbah Ginah Bikin Terenyuh

Jumat, 22 April 2016 01:25 WIB
Tolak Berpangku Tangan, Perjuangan Mbah Ginah Bikin Terenyuh
Mbah Ginah memajang barang daganganya di pinggir jalan. Hal itu dilakukan saban hari. foto: brilio

KISAH perjuangan hidupnya bikin banyak anak muda malu. Mbah Ginah, meski sudah berusia renta yakni 80 tahun merupakan sosok yang sangat hebat, bekerja sekuat tenaga tanpa pernah mengeluh.

Usianya tak lagi muda, tapi semangatnya untuk mencari nafkah benar-benar mengundang haru. Dia adalah Mbah Ginah (80), seorang penjual gerabah berbentuk celengan yang rela berjalan kaki demi menjajakan barang dagangannya.

Mbah Ginah adalah satu dari sekian banyak orangtua yang menolak untuk berpangku tangan. Walaupun jika dilihat dari fisiknya, sudah seharusnya ia beristirahat di rumah untuk menikmati masa tuanya.

Dilansir brilio.net, dikutip dari akun media sosial komunitas Ketimbang Ngemis Yogyakarta, Kamis (21/4), Mbah Ginah tinggal di daerah Kasongan, Bantul, Yogyakarta bersama suaminya yang bekerja mencari rumput untuk pakan kambing. Dan anaknya kini masih duduk di bangku SMP.

Kasongan merupakan sebuah tempat yang terkenal dengan para pengrajin gerabah. Dari situlah ia mulai berjualan menuju ke arah Kota Yogyakarta. Jarak tempuhnya tak main-main. Ia sanggup berjalan dari Kasongan, Bantul hingga ke kawasan Malioboro.

"Kalau beruntung ia bisa menumpang dengan tetangganya yang punya becak. Tapi kalau nggak ada ia terpaksa berjalan," ujar Dwiky, seorang anggota Komunitas Ketimbang Ngemis Yogyakarta yang berkesempatan menemui Mbah Ginah saat berjualan.

Jika dihitung-hitung jarak tempuh saat ia berjualan bisa mencapai sekitar 10 kilometer jauhnya. Itu ia lakukan dengan penuh keikhlasan, demi mencari satu atau dua orang yang mau membeli dagangannya.

Belum lagi sambil membawa barang dagangannya yang tak bisa dibilang ringan. Hanya dengan menggunakan caping sebagai pelindung kepala dari sengatan teriknya matahari. Sandal jepit sebagai alas kaki, dan menggendong beberapa celengan dengan menggunakan wadah bakul.

Saat ditemui ketika berjualan, raut wajahnya tampak kelelahan. Ketika ditanya, Mbah Ginah pun hanya menjawab seadanya.

"Nggih sak kiyate mawon (iya sekuatnya aja)," ucapnya sambil menata barang dagangannya dengan harapan laku tentunya.

Sebuah perjuangan hidup yang menyentuh hati siapapun yang melihatnya. Bisa dibilang, sosok seperti Mbah Ginah inilah yang layak menyandang gelar Kartini Masa Kini. (bri/lan)

Sumber: brilio.net
Bandeng Jelak Khas Kota Pasuruan yang Tinggi Protein, Yuk Makan Ikan!
Minggu, 28 April 2019 01:01 WIB
PASURUAN, BANGSAONLINE.com - Kali ini Shania Indira Putri, Duta Gemarikan Kota Pasuruan, melihat lebih dekat bagaimana proses pemanenan ikan Bandeng Jelak khas Kota Pasuruan. Sekali panen, ikan ini air tawar ini bisa menghasilkan 600 hingga 120...
Jumat, 23 Agustus 2019 22:22 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Masyarakat Kabupaten Ngawi dan sekitarnya kini sedang gandrung dengan destinasi wisata baru di Desa Bringin, Kecamatan Bringin, Ngawi. Di mana, salah satu obyek wisata yang dikenal dengan nama 'Jurang Krowak' banyak men...
Minggu, 11 Agustus 2019 17:36 WIB
Oleh: Em Mas’ud AdnanPeta politik Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Kota Surabaya kembali berubah. Awalnya ada tiga kekuatan kubu politik di internal PDIP Kota Surabaya. Kubu Wihsnu Sakti Buana (wakil wali kota Surabaya), Bambang...
Senin, 19 Agustus 2019 01:09 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag58. wa-in min qaryatin illaa nahnu muhlikuuhaa qabla yawmi alqiyaamati aw mu’adzdzibuuhaa ‘adzaaban syadiidan kaana dzaalika fii alkitaabi masthuuraanDan tidak ada suatu negeri pun (yang durhaka penduduk...
Sabtu, 17 Agustus 2019 11:29 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...