Sabtu, 15 Mei 2021 19:12

Kiai Dur, Menantu KHM Hasyim Asy'ari dan Tonggak Berdirinya Pagar Nusa NU itu Wafat

Rabu, 17 Februari 2016 20:00 WIB
Kiai Dur, Menantu KHM Hasyim Asy
KH Abdurrahman Utsman.

JOMBANG, BANGSAONLINE.com - KH Abdurrahman Utsman, ketua PCNU Jombang dua periode (1992 -2002) wafat. Kiai Dur – panggilan KH Abdurrahman Utsman – wafat di RSUD Jombang, Jawa Timur, Rabu (17/2), pukul 02.30 WIB. Jenazah kiai kelahiran 15 Juli 1949 di Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur ini sebelumnya disemayamkan di rumah duka Jalan Garuda Nomor 1 Tambakberas, dan dimakamkam di pemakaman keluarga Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar sekitar pukul 11.00 WIB.

Sebelum wafat ia sempat dirawat di Rumah Sakit Graha Amerta Surabaya.Ia sempat menjalani kemoterapi ke-2 setelah divonis menderita tumor empedu.

Saat itu BANGSAONLINE sempat menjenguk. Ia bercerita tentang penyakitnya. ”Menurut dokter, ada dua alternatif. Pertama dioperasi. Kedua dikemoterapi. Saya tak mau dioperasi, saya milih dikemoterapi,” katanya saat itu. Kondisinya tampak lemah tapi ia masih sempat guyon.

Kiai Dur memang sangat humoris dan selalu ceria. Haji Abdul Wahid Asa, teman seperjuangannya di NU, bercerita bahwa Kiai Abdurrahman Utsman selalu guyon.Ia bercerita sewaktu sama-sama jadi anggota DPRD Jatim. ”Memang selalu guyon,” kata Abdul Wahid Asa. Kiai Dur dan Wahid Asa memang pernah menjadi anggota DPRD Jatim dari Fraksi PKB.

BACA JUGA : 

Pengasuh Ponpes Dukung Polda Jatim Berantas Narkoba

Perkuat Ekonomi Pesantren, Pengurus BagusS Jatim Gelar Sarasehan dan Silaturahim

Jokowi: Vaksin AstraZeneca akan Digunakan di Lingkungan Pondok Pesantren

​Tinjau PP An-Nidhomiyah di Pamekasan, Gubernur Khofifah Minta Hak Korban Segera Diberikan

Bahkan ketika sakit kali pertama Kiai Dur dan Wahid Asa sempat guyon. ”Sakitnya itu kan waktu pembukaan Muktamar NU,” kenang Wahid Asa. Saat itu Kiai Dur, tutur Wahid Asa, mengeluh sakit. Lalu dipijat doleh Yono, tukang pijat. ”Saya sempat bilang dipijet begitu saja sakit,” kata Wahhid Asa. Ternyata, kata Wahid Asa, ia mengeluh sakit bukan karena dipijat tapi karena tumornya.

Kiai Dur selain dikenal sebagai tokoh NU juga menantu Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ar, pendiri NU dan Pesantren Tebuireng Jombang. Seperti dilansir Tebuireng.org, Kiai Utsman merupakan suami Nyai Hj. Khodijah bin Hasyim, puteripasangan Hadratusyaikh KH. M. Hasyim Asyari dan Nyai Hj. Masruroh. Dalam pernikahan tersebut dikaruniai empat orang anak, salah satunya Gus Aizuddin Abdurrahman. Gus Aiz – panggilan H. Aizuddin Abdurrahman adalah mantan ketua umum PP. PSNU Pagar Nusa yang kini menjadi salah satu ketua PBNU.

Sebelum menikah dengan Kiai Abdurrahman Utsman, Bu Khod (panggilan Nyai Hj Khodijah) memiliki tiga anak dari pernikahannya dengan KH. Ahmad Hadzik, yaitu KH Ishomuddin Hadzik (Gus Isom, Alm), Gus Fahmi Amrullah, dan Gus Zakki. Sepeninggal Bu Khod, Kiai Abdurrahman Utsman menikah lagi dengan Hj. Luluk Muashomah, cucu KH. Bisri Syansuri Denanyar.

Di Tebuireng Kiai Abdurrahman Utsman banyak mengajar kitab kuning, di antaranya Fathul Mu’in, kitab fiqh standar menengah. Bahkan Kiai Abdurrahman Utsman menjadi lurah Pondok Pesantren Tebuireng pada akhir tahun 1985 sampai awal tahun 1986.

Pada saat itu para pendekar NU dari beberapa perguruan silat sepakat menggelar pertemuan di Tebuireng, Jombang. KH. Syansuri Badawi saat itu dianggap sebagai sesepuh. Maklum, kiai asal Cirebon Jawa Barat ini juga dikenal piawai pencak silat.

KHM Yusuf Hasyim pengasuh Tebuireng sebelum KH Salahuddin Wahid (Gus Solah) mengutus Kiai Dur untuk memfasilitasi rencana pertemuan tersebut. Saat itu para pendekar Tebuireng yang tergabung dalam perguruan silat adalah Nurul Huda Pertahanan Dua Kalimat Syahadat (NH Perkasya) yang digawangi oleh KH. Lamro Azhari turut menjadi unsur penentu dalam pertemuan itu.

Pertemuan perdana dilaksanakan di Pondok Pesantren al-Masruriyah Jombang yang saat itu diasuh Kiai Dur bersama sang Istri, Bu Khod. Pertemuan kemudian dilanjutkan di belakang perpustakaan untuk mendirikan organisasi pencak silat NU, yang terdiri dari beberapa perguruan.

Hasil pertemuan disampaikan kepada KH. Maksum Jauhari Lirboyo. Pertemuan itu menjadi tonggak bagi pertemuan-pertemuan berikutnya hingga Pagar Nusa berdiri sebagai wadah pendekar NU dari berbagai perguruan, bukan sebuah perguruan. Namun pada perkembangannya, Pagar Nusa yang awalnya hanya perkumpulan pendekar NU berubah menjadi sebuah perguruan sendiri, dengan perguruan Pencak Silat NU (PSNU) Pagar Nusa.

Karena itu mudah dipahami jika Kiai Dur dikenal sebagai salah satu tokoh pendiri perguruan Pencak Silat Nahdlatul Ulama (PSNU) Pagar Nusa. (tim)

Artis Greta Garbo Ajak Nikah ​Albert Einstein
Rabu, 12 Mei 2021 04:07 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com – Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan episode 30 mereview cerita Gus Dur tentang fisikawan Albert Eintein dan model cantik Greta Garbo. “Anekdot ini saya ambil dari buku berjudul Gus Dur hanya Kalah dengan Orang Madura,...
Jumat, 16 April 2021 16:59 WIB
BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Banyuwangi memiliki cara menarik untuk memelihara infrastruktur fisiknya. Salah satunya, dengan menggelar festival kuliner di sepanjang pinggiran saluran primer Dam Limo, Kecamatan Tegaldlimo be...
Sabtu, 15 Mei 2021 09:10 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kerusuhan 13 Mei 1998 terus diperingati oleh masyarakat Tionghoa di Indonesia. Korban aksi anarkis itu sebagian memang etnis Tionghoa.Uniknya, mereka memperingati dengan menyajikan rujak pare dan sambal jombrang. Apa...
Kamis, 13 Mei 2021 19:51 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*61. falammaa balaghaa majma’a baynihimaa nasiyaa huutahumaa faittakhadza sabiilahu fii albahri sarabaanMaka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengamb...
Jumat, 14 Mei 2021 10:11 WIB
Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam tentang kehidupan sehari-hari. Diasuh Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A., Dekan Fakultas Adab dan Humaniora Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya (UINSA) dan pengasuh Pesantren Mahasiswa An-Nur Won...