Mau Kaji Fiqih Waria, Eh... Ketua Pesantren Waria Sebut Kitab al-Hikam

Mau Kaji Fiqih Waria, Eh... Ketua Pesantren Waria Sebut Kitab al-Hikam Shinta Ratri. Foto: panjimas.com

Upaya-upaya pun terus dilakukan oleh kaum waria untuk mengadvokasi keberadaan gender ini dengan kegiatan-kegiatan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat melalui kelembagaan.

Ia mengatakan, pernikahan semacam itu mengandung banyak risiko, dengan banyaknya masyarakat yang akan menolak hubungan sama jenis tersebut.

Ia mengatakan, harusnya pasangan sesama jenis itu dapat berfikir lebih jauh, dampak yang terjadi usai pernikahan.

"Entah tujuannya untuk apa saya engga ngerti. Harusnya dia berfikir lebih jauh, bahwasanya Indonesia belum bisa menerima hal-hal seperti itu. Hal itu hanya akan mengundang sensasi dan menimbulkan protes di kalangan masyarakat saja," tutur Shinta, Senin (12/10/2015).

Mantan Ketua Ikatan Waria Yogyakarta (Iwayo) ini mengatakan, ia dan rekan-rekan sesama waria tidak merasa antusias untuk menikah atau melegalkan hubungan keduanya.

"Kami harap stigma negatif itu bisa hilang, sehingga kami bisa hidup layaknya manusia sebagai mana mestinya. Kami bisa bekerja, kami bisa beribadah dengan tenang," katanya.

Pesantren waria di Yogyakarta semula didirikan Maryani. Pesantren ini sempat mandeg ketika Maryani meninggal. Shinta kemudian berinisiatif mengaktifkan kembali pesantren berkat dukungan waria asuhannya.

"Saat itu kami mulai kembali ingin lanjutkan pesantren, karena itu setelah bu Maryani meninggal kita sempat vakum," kata Shinta saat ditemui di Celenan, Kotagede Yogyakarta, Sabtu (26/04).

Shinta mengatakan dirinya memindahkan pesantren yang semula di Notoyudan, Ngampilan menjadi di Celenan berdasarkan kesepakatan bersama. Rumah dengan model rumah tradisional Jawa itu adalah rumah Shinta, sekilas tidak terlihat seperti pesantren. Meski lokasinya cukup sulit ditemukan karena harus menyusuri gang-gang sempit, namun tidak membuat anggota pesantren patah semangat untuk datang setiap pekan ke sana.

"Teman-teman rumahnya menyebar, tidak di sini, tapi kita fokuskan kegiatan di sini. Sebelumnya di sini juga sanggar seni waria, jadi sudah banyak juga yang tahu," urai Shinta.

Di lokasi baru ini, pada 18 April lalu, Shinta dan teman-temannya meresmikan kembali pesantren waria. Sebagai langkah awal, Shinta merekrut 20 anggota baru pesantren waria.

"Kita mengawali ini dengan merekrut anggota baru. Ada 20 waria yang mau bergabung, kalau anggota sebelumnya ada 22 waria," jelas Shinta yang sehari-hari berprofesi sebagai pengrajin.

Dia berharap pembukaan kembali pesantren waria ini bisa menjadi wadah bagi waria untuk mendekatkan diri dengan Tuhan lewat kegiatan keagamaan.

Sumber: panjimas.com/tribunnews.com

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO