Tradisi ulur-ulur yang kini masih tetap dibudayakan
"Air ini adalah urat nadi kehidupan. Di saat daerah lain menghadapi ancaman kekeringan, masyarakat di sini tetap tenang berkat keberadaan Telaga Buret. Tradisi Ulur-Ulur adalah bentuk rasa syukur kepada Tuhan melalui alam," ujarnya.
Ia menambahkan, keunikan tradisi ini tidak hanya terletak pada nilai budaya, tetapi juga pada kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan.
"Ulur-Ulur mencerminkan harmoni antara manusia dan alam. Ini bukan hanya tradisi, tetapi juga bentuk nyata konservasi berbasis kearifan lokal," imbuhnya.
Pemerintah Kabupaten Tulungagung berkomitmen mengembangkan Telaga Buret sebagai destinasi wisata berbasis eco-culture.
Selain menjaga nilai sakralnya, potensi wisata alam dan budaya di kawasan tersebut dinilai mampu menarik minat wisatawan.
"Kami ingin Telaga Buret dikenal luas sebagai destinasi wisata yang tidak hanya menawarkan keindahan alam, tetapi juga nilai budaya dan sejarah yang kuat," tambahnya.
Tradisi Ulur-Ulur ditutup dengan doa bersama serta pembagian tumpeng kepada masyarakat. Antusiasme warga yang berebut berkah dari hasil bumi tersebut menjadi bukti bahwa nilai-nilai budaya di Tulungagung tetap hidup dan lestari di tengah arus modernisasi. (fer/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




