HRM. Khalilur R. Abdullah Sahlawiy
Ia mencontohkan Madura sebagai salah satu daerah penghasil tembakau terbesar di Indonesia yang masih berada di level bawah dalam indikator kesejahteraan di Jawa.
"Ini bukan pertanyaan akademik bagi saya. Ini personal. Sebab saya tumbuh dan berkembang bersama tembakau. Dalam percakapan petani, dalam musim panen yang penuh harap, dalam wajah-wajah yang tetap bekerja keras meski hasilnya tidak pernah pasti," imbuhnya.
Menurutnya, persoalan utama bukan terletak pada petani, melainkan pada sistem yang menempatkan mereka hanya sebagai pemasok bahan baku, bukan bagian dari kekuatan industri.
Ia menilai sistem tersebut membuat nilai tambah industri lebih banyak dinikmati pihak di atas, sementara petani hanya menerima keuntungan kecil.
Gus Lilur menegaskan sistem tersebut tidak boleh terus berlangsung dan harus diubah secara mendasar.
"Harus ada perubahan yang mendasar. Perubahan yang tidak hanya menyentuh permukaan, tetapi menyentuh struktur. Dan perubahan itu, bagi saya, hanya mungkin dilakukan dengan satu cara, membangun industri dari bawah," tandasnya.
Ia mendorong lahirnya industri tembakau berbasis usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di berbagai daerah penghasil tembakau sebagai solusi.
"Saya percaya, jika ini dilakukan secara masif, jika ribuan pabrik UMKM benar-benar tumbuh di berbagai daerah. Maka lanskap industri tembakau Indonesia akan berubah secara fundamental," pungkas Gus Lilur. (mdr/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




