Menjemput Fajar, Jejak Futuwwah Kiai Asep Saifuddin Chalim

Menjemput Fajar, Jejak Futuwwah Kiai Asep Saifuddin Chalim Oleh: Aguk Irawan MN. Foto: dok. pribadi

Secara nasab, darah pejuang mengalir dalam nadinya. Namun, beliau tidak pernah "menjual" nasab tersebut. Beliau memvalidasi kehormatan leluhurnya dengan kerja nyata, membangun institusi pendidikan dari nol hingga menjadi rujukan nasional.

Ia adalah perpaduan antara "biografi yang selesai" dan "pengabdian yang tak kunjung usai."

Jika PBNU adalah sebuah kapal besar yang mengarungi samudera zaman yang kian tak menentu, maka adalah kompas moralnya. Kita membutuhkan sosok yang tidak hanya fasih bicara tentang langit, tetapi juga tahu bagaimana menjejak bumi.

Kiai Asep menawarkan sebuah model kepemimpinan, bahwa kemandirian adalah otonomi sikap dan ini menunjukkan bahwa NU bisa tegak tanpa proposal yang mengemis. Selain kemandirian, adalah intelektualitas. Di tangan Kiai Asepi, visi pendidikan Kiai Asep, santri harus bersaing di panggung global tanpa kehilangan identitas kesantriannya.

Juga ketulusan yang mengingatkan kita bahwa puncak dari segala ilmu adalah pengabdian kepada kemanusiaan. Mungkin, di bawah asuhan sosok dengan kriteria aliman, faqihan, zahidan, muru’ah, dan futuwwah inilah, NU insyaallah akan menemukan kembali khitah misi pendiriannnya. Bukan sebagai alat politik, melainkan sebagai oase bagi kegelisahan umat.

Dari sebuah kota yang padat dan riuh Surabaya ke pinggiran kawasan Pacet, fajar itu datang dengan harapan. Pada aura Kiai Asep, kita melihat pantulan fajar yang sama untuk masa depan Nahdlatul Ulama. Wallahu'alam bishawab.

*Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah Yogyakarta.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO