Peserta Napak Tilas Isyaroh Pendirian NU saat tiba di Tebuireng Jombang. (Ist)
Kiai Azaim berterima kasih kepada semua pihak yang telah membantu acara ini. Ia mengutip pesan KH Hasym Asy’ari yang menyatakan, "Barangsiapa yang mengurusi NU, aku anggap santri dan kudoakan husnul khatimah beserta keluarganya".
Sementara itu, cicit KH Hasyim Asy’ari sekaligus pengasuh Pesantren Tebuireng, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), mengakui perjalanan napak tilas membutuhkan tenaga dan menguras pikiran.

Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz (empat dari kanan). (Ist)
“NU mengambil peran signifikan, mengingat satu abad tahun lalu, apa yang bisa kita ambil dan lakukan dari perjalanan napak tilas yang dipimpin KHR. Ach. Azaim Ibrahimy ini,” kata Gus Kikin.
Gus Kikin menuturkan, apa yang dilakukan leluhur dulu lebih berat dari sekarang, karena pemerintah Belanda tidak menoleransi bangsa Indonesia dalam memperjuangkan kemerdekaan.
“Perjuangan ulama dulu jauh lebih berat dari apa yang kita perjuangkan hari ini. Tapi perjuangan tetap harus kita lanjutkan dengan menjaga kebersamaan ukhuwah persatuan untuk menggapai ridha dari Allah Swt,” pungkasnya. (*)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




