Dua Aktivis Pasuruan Angkat Bicara soal Penolakan Warga dalam Pembangunan Batalion TNI AL

Dua Aktivis Pasuruan Angkat Bicara soal Penolakan Warga dalam Pembangunan Batalion TNI AL Lujeng Sudarto (kiri) dan Maulana Sholahudin.

Senada dengan Lujeng, Maulana Sholahudin atau lebih akrab dipanggil Cak Maul mengatakan bahwa kunci untuk pertahanan negara maka harus strategies, seperti menjaga langsung perbatasan, morotai, selat Malaka, dan lainya.

Ia menguraikan bahwa di semua sisi kawasan yang berhadapan dengan negara lain itu sangat dibutuhkan tempat pertahanan. Sebab, di sana masih banyak kapal laut asing yang masuk lautan Indonesia.

“Posisi yang urgen dan strategis adalah yang berpotensi sengketa, dengan Malaysia, laut China dan itu ada kemungkinan potensi perang di sana,” katanya.

“Apa strategisnya (Desa) Alastlogo yang hanya berhadapan dengan Selat Jawa yang tertutup Pulau Madura?” imbuhnya.

Sementara itu, Komandan Pusat Latihan Khusus Kolatmar, Letkol Mar. Alamsyah menjelaskan, pembangunan tersebut merupakan program pemerintah pusat. Pihaknya tidak akan melanjutkan proses apa pun sebelum ada dialog resmi dengan pemerintah daerah.

“Kami di sini hanya mengawasi program. Pembangunan Batalion 15 merupakan program dari pemerintah pusat. Semua aspirasi warga sudah kami sampaikan,” jelas Almasyah, Jumat (14/11/2025).

Setelah mendapat penjelasan dan proyek pembangunan Batalion 15 dihentikan sementara, massa akhirnya membubarkan diri. Warga menunggu agenda pertemuan bersama Bupati Pasuruan dan TNI AL. (afa/msn)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO