Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA saat menemui Marsekal Madya TNI Samsul Rizal, S.I.P., M.Tr. di kediamannya di Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya, Ahad (6/7/2025). Foto: M. Mas'ud Adnan/bangsaonline
Percakapan Kiai Asep dan jenderal kelahiran Karawang 23 Februari 1969 itu kian akrab ketika mereka tahu sama-sama berasal dari Jawa Barat. Yang juga menarik, Kiai Asep banyak membahas tentang sastra.
Awalnya Kiai Asep bercerita masa kecil dan remaja yang sempat melanglang buana setelah ditinggal wafat abahnya, KH Abdul Chalim, seorang ulama besar yang merupakan salah satu kiai pendiri NU dan pejuang kemerdekaan RI. Kiai Abdul Chalim dianugerahi gelar pahlawan pada 10 November 2023.
Saat itu Kiai Asep pergi mencari tempat yang bisa menampung dirinya sekedar untuk tempat tinggal dan bisa makan serta mengajar. Dalam pengembaraannya itu Kiai Asep membawa tas yang isinya buku dan kitab, termasuk kamus bahasa Arab dan bahasa Inggris.
“O, suka baca,” kata Samsul Rizal.
“Ya, tapi baca novel. Nggak tahu kenapa saya suka baca novel,” jawab Kiai Asep.
Kiai Asep yang memiliki puluhan ribu santri itu bercerita bahwa ia suka baca buku novel karangan sastrawan-sastrawan kondang Indonesia. Antara lain: Di Bawah Lindungan Ka’bah (karya Hamka), Tenggelamnya Kapal Van der Wijck (karya Hamka), Kasih Tak Sampai (karya Marah Roesli), Azab dan Sengsara (karya Marari Siregar), Salah Asuhan (karya Abdul Muis) dan novel lainnya.
Bahkan Kiai Asep masih hafal alur cerita novel Di Bawah Lindungan Ka’bah yang mengisahkan cinta terlarang antara Hamid, seorang pemuda dari kaluarga miskin yang saling jatuh cinta dengan Zainab, gadis yang berasal dari keluarga terpandang. Cinta dua insan itu tak kesampaian karena Zainab dijodohkan dengan orang lain, sementara Hamid meninggal di tanah suci saat ibadah haji.
“Tapi novel-novel sekarang saya gak suka,” kata Kiai Asep sembari menyebut novel Tenda Biru dan sebagainya.
Menurut dia, novel-novel tempo dulu selain memiliki kedalaman makna juga mengandung nilai-nilai kehidupan yang sangat kuat. Disamping itu juga memiliki keindahan alur pikiran yang menyentuh.
“Sekarang alur ceritanya gak lagi halus,” kata ulama yang punya obsesi besar untuk membangun perguruan tinggi internasional itu.
Sementara Samsul Rizal banyak bercerita tentang peran dan tugas utama TNI. Secara visioner ia membahas tentang pentingnya meritokrasi organisasi dan profesionalisme TNI.
Di Unhan ia mengajar materi kuliah diplomasi internasional. “Saya kan pernah menjabat sebagai Atase Pertahanan RI di KBRI Jerman,” kata Samsul Rizal kepada BANGSAONLINE sembari menikmati makan siang bersama Kiai Asep.
Setelah 4 jam berdiskusi, Samsul Rizal pamit. Tapi Kiai Asep mengajak berdoa dulu.
“Kita doa dulu,” kata Kiai Asep yang langsung memimpin doa.
Lalu apa kesan Kiai Asep terhadap Samsul Rizal. “Orangnya sederhana sekali ya,” kata Kiai Asep kepada BANGSAONLINE.
Dari hasil pertemuan dengan Samsul Rizal itu Kiai Asep berharap semua elemen masyarakat, terutama Aparat Penegak Hukum (APH), memberikan kontribusi terhadap bangsa dan pemerintah Indonesia. Sehingga Indonesia maju, adil dan makmur.
“Harus punya kontribusi, terutama APH untuk keberhasilan pemerintah, di bawah Presiden Prabowo. Pengusaha-pengusaha kecil harus diberi kesempatan untuk berkembang, jangan dihambat, sementara pengusaha besar harus punya kepekaan sosial sehingga ikut memikirkan orang miskin,” harap Kiai Asep.
“Begitu juga wartawan dan LSM, mari ciptakan kedamaian,” tambahnya. (MMA)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




