Pepeng Putra Wirawan (Pakaian Batik) saat menyaksikan pembukaan gembok di pintu kelenteng Kwan Sing Bio Tuban.
‘’Saya yang bertanggung jawab. Kalau itu (terlibat konflik) saya tolak. Tidak boleh masuk,’’ tegasnya.
Pepeng menyampaikan pertimbangan membuka karena tempat ibadah tersebut karena milik umum. Karena itu, tidak boleh sejumlah pribadi menutupnya.
Putra mantan ketua umum TITD Kwan Sing Bio Tuban periode 1990-an, mendiang Lubian Jaya Wirawan itu kemudian menyampaikan filosofi nyala lilin sumbangan umat di seluruh di Indonesia.
‘’Kita hargai. Karena lilin sesuatu yang sakral. Mereka (umat) percaya kepada Kongco. Ini adalah salah satu kebahagiaan dan hoki,’’ ujarnya.
Pepeng juga menyatakan bertanggung jawab bahwa selama satu bulan kelenteng harus dibuka.Dia mengaku akan ikut dan mengetahui kondisi kelenteng saat ini.
‘’Saya tidak ingin konflik berkepanjangan. Saya harus buka kelenteng. Terpaksa saya potong,’’ tegas dia.
Menurutnya, pihak yang menggembok kelenteng tersebut adalah pengelola. Sebab, lanjut Pepeng, penggembokan terjadi karena keributan yang terjadi pada Minggu (08/06/2025).
Keributan dimaksud adalah upaya Tjong Ping bersama pengurus-penilik terpilih, dan umat yang hendak puak pwee setelah pemilihan.
Dengan menutup total gerbang kelenteng, kata Pepeng, pihak pengelola berharap Tjong Ping tidak kembali masuk.
‘’Dikhawatirkan pihak Tjong Ping masuk lagi ke kelenteng, makanya digembok,’’ ujar pria bernama Tionghoa, Oei Khay Sian itu.
Ia menambahkan, pengelola sebelumnya tidak akan membuka kelenteng jika tidak ada kesepakatan dengan pihak yang berkonflik.
‘’Karena itulah, saya (minta, Red) membuat surat pernyataan. Satu bulan ini harus dibuka. Kubu Tjong Ping tidak boleh masuk,’’ pungkasnya. (coi/van)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




