Petugas saat melakukan pemantauan jentik. Foto: ANDI SIRAJUDIN/BANGSAONLINE
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Penanganan Penyakit Dinkes Kabupaten Probolinggo, Dewi Veronica, menyebut angka DBD hingga saat ini telah mencapai angka 614 kasus dengan angka kematian mencapai 18 korban.
"Penyebabnya angka tinggi karena el nino yaitu faktor iklim ya. Karena, nyamuk itu lebih sering menggigit saat cuaca panas. Cuaca dari tinggi 38-40 derajat, sehingga siklus hidup mereka lebih sering mengigit, memang untuk memenuhi reproduksi mereka," paparnya.
Namun, pihaknya tetap mengantisipasi, karena kenapa di saat musim kemarau, angka kasus DBD meningkat.
"Ya, itu yang kita antisipasi. Kenapa sebelum musim hujan. Angka itu sudah naik. Ada penanggulangan sebelum musim hujan sebelum April. Kita jaga itu, makanya kan Kementrian Kesehatan itu mengapresiasi, kok kenapa sudah bergerak. Karena kita mencegah dan mengantisipasi sampai bulan penghujan nanti," ungkapnya.
Di tempat yang sama, Ketua Tim Kerja Arbovirosis Kemenkes, Asik Surya, mengatakan tingginya angka DBD di Kabupaten Probolinggo memang harus ada tindakan, harapannya agar ditahum depan tidak terjadi angka yang lebih tinggi atau peningkatan kasus hingga tingginya kematian.
"Jadi, harus dimulai sekarang. Karenanya, Desa Karanganyar bersama Pondok Pesantren Nurul Jadid ini akan menjadi percontohan untuk penanggulangan atau penanganan DBD di Indonesia. Kita siapkan program bagaimana, bisa menggerakkan masyarakat untuk memeriksa rumahnya sendiri dengan melakukan pemantauan dan pemberantasan sarang nyamuk," katanya. (ndi/mar)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




