Lingkungan Keluarga Sebagai Pendidikan Kasih Sayang dan Saling Menghargai

Lingkungan Keluarga Sebagai Pendidikan Kasih Sayang dan Saling Menghargai Pengajar di STIT Al Ibrohimy Galis-Bangkalan program studi Pendidikan Agama Islam, Moh. Amiril Mukminin.

Lingkungan keluarga merupakan suatu kelembagaan Pendidikan kecil non formal, tetapi memiliki pengaruh besar terhadap kelanjutan pendidikan selanjutnya, yakni pada lembaga formal. Kita memahami bahwa dalam lingkup keluarga harus ada yang namanya struktur keluarga, minimal ada Kepala rumah tangga, keluarga seperti istri, anak, pembantu dan lainnya, berada dalam satu atap, paling terakhir adalah berada dalam satu atap rumah serta saling mempengaruhi, karena kaluarga merupakan unit terkecil dari struktur Masyarakat (Amorisa Wiratri: LIPI 2016).

Berdasarkan hal tersebut, Islam mencoba untuk menawarkan satu rujukan hadis tentang pendidikan kasih sayang dan saling menghargai dalam riwayat Imam Bukhari nomer 97; dari Abu Musa Al-Asy'ari RA, "ada tiga orang yang mendapatkan dua pahala: (1) seorang Ahli Kitab yang beriman kepada nabinya dan beriman kepada Muhammad. (2) budak apabila menunaikan hak Allah dan hak tuannya. (3) seseorang yang memiliki hamba sahaya wanita lalu ia mendidiknya dengan baik dan mengajarinya dengan sebaik-baik pengajaran, memerdekakannya kemudian menikahinya. Baginya dua pahala (Muhammad bin Isma’il bin isma’il bin Bazdabah al Bukhariy, Shahih al Bukhariy, 1987).

Pertama, Imam Ibn Hajar al Asqalaniy mencoba untuk menjelaskan hadis tersebut dalam Kitab Syarahnya; Bahwa tiga golongan yang mendapatkan dua pahala sekaligus adalah orang-orang yang sebelum kerasulan Nabi Muhammad SAW, tetap konsisten mengedepankan nilai nilai ketuhanan melalui jejak para utusan Allah SWT, dicontohkan pada kaumnya nabi Isa dan nabi Musa yang diantara mereka kaum tersebut mengikuti apa yang menjadi arahan dari nabi masing masing.

Hingga sampai pada kerasulan berikutnya yakni masa di utusnya Nabi Muhammad SAW, dan kaum tersebut mengikutinya. Dari sini bisa difahami bahwa dalam urusan keTuhanan yang menjadi sandaran utama adalah konsistensi dalam keimanan dan ketakwaannya, dimana nilai nilai tersebut mengindikasikan adanya transformasi nilai kemanusiaan yang baik, bisa digambarkan cinta kasih sesama dan saling menghargai perbedaan.

Positif terhadap sosial ini yang perlu diajarkan pada keluarga untuk saling mengasihi dan menghargai dan siapapun akan mendapatkan satu pahala, sedangkan jika seorang non-muslim yang memegang prinsip keagamaannya kemudian dia mau masuk Islam tanpa paksaan, maka orang terebut akan mendapatkan dua pahala, jadi tidak ada unsur pemaksaan pada keyakinan masing-masing terpenting adalah prinsip keimanan ketuhanan dalam kepercayaan masing-masing (Ibn Hajar al ‘Asqalaniy. Fath al Bari bi Syarhi Shahih al Bukhariy. 2004)

Kedua, Ibn Hajar al Asqalaniy memberikan penjelasan ; Tentang tanggung jawab, Tanggung Jawab kepada Tuhan dan Tuannya, hal ini dikarenakan adanya relasi kuat yang tidak terputus pada satu jalur, dengan kata lain ada interelasi tanggung jawab, jika tanggung jawab pada Tuhannya terpenuhi harusnya tanggung jawab manusia terlenbih pada Tuannya harusnya juga terpenuhi. Hadis ini mengajarkan tentang bahwa Tanggung Jawab yang mendalam merupakan Pendidikan karakter diri; bertanggung jawab berarti mencintai terhadap apa yang telah menjadi kesepakatan Bersama, baik hak, kewajiban dan kebutuhan lainnya.

Apabila ada secara sosial tidak bisa dihindari, seperti problem atau masalah terkait kepantasan sikap atau pembicaraan, maka menghargai dengan cara komunikasi interaktif dan solutif untuk menyelsaikannya adalah jalan terbaik (menuntaskan dengan cara kekeluargaan).

Ketiga, Imam Ibn Hajar al Asqalaniy menjelaskan bahwa peran penting seorang kepala rumah tangga baik pada istri dan anak hingga pada Pembantunya untuk memberikan bimbingan Pendidikan dan pengajaran merupakan hal paling pokok dalam pemenuhan kebutuhan llingkup keluarganya. Penjelasan ini mengajak setiap manusia agar mendahulukan cinta kasih dan saling menghargai dalam membangun keutuhan keluarga dan harmonisasinya.

III.Pendidikan Kasih Sayang dan Saling Menghargai Sebagai Anti Diskriminasi Perbedaan Keyakinan Keberagamaan

Teks kecil hadis Riwayat Imam Bukhariy; No. 97 mengajarkan setiap manusia agar lebih fokus pada pendidikan sektor kecil keluarga tentang pendidikan Keimanan dan ketakwaan, pendidikan dasar ini harus terpenuhi karena sebagai fondasi dasar dari kehidupan. Akan tetapi semua hal ini harus menunjukkan arti saling menghargai dan saling menyayangi, karena dalam hadis tersebut jelas hanya menyampaikan suatu penghargaan dalam bentuk pahala, bukan soal sangsi atau siksa.

Dari sini saja sudah tampak jelas, bahwa persoalan keimanan bukanlah suatu hal yang dipaksakan, akan tetapi lebih pada hal saling menghargai apapun keimanannya. Jika dasar pendidikan ini bisa diajarkan dengan baik dalam lingkup keluarga kecil, maka tidak akan ada lagi yang namanya diskriminasi keberagamaan, bahkan akan mengantisipasi terjadinya tindak kekerasan fisik terhadap siapapun yang berbeda keyakinan.

Kasih sayang yang tergambar dalam tanggung jawab merupakan solusi penting dalam mengajarkan dan mendidik anak-anak, istri dan siapapun yang ada dalam satu atap agar lebih mengedepankan cinta sesama dan kepada siapapun. Pembinaan inilah nantinya diharapkan terbentuk dalam diri lingkungan keluarga, sehingga agama tidak lagi menjadi sebab perpecahan dan kekerasan, dan Agama Menjadi suatu yang unik, asik dan penebar kasih sayang (rahmatan lil ‘alamin).

Penulis merupakan seorang pengajar di STIT Al Ibrohimy Galis- program studi Pendidikan Agama Islam.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Semakin Ketat, Penyekatan Jembatan Suramadu Dilakukan di Dua Sisi ':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO