Aksioma merupakan ajang perlombaan yang dilakukan KKM dibawah naungan Kemenag setiap satu kali dalam dua tahun. Adapun semua pembiyaan pelaksanaan Aksioma itu dibebankan kepada masing-masing lembaga sesuai jenjang pendidikan dibawah naungan Kemenag.
Di Sumenep, biaya setiap jenjang pendidikan berfariasi, tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) sebesar Rp 10 ribu persiswa sedangkan untuk jenjang Madrasah Aliyah (MA) sebesar Rp 16 ribu persiswa. Jadi, tanggungan setiap lembaga tidak sama sesuai jumlah siswanya.
Hanya saja adanya sumbangan yng bersifat wajib bagi lembaga yang mau berpartispasi dan juga lembaga yang tidak berpartisipasi itu, terus mendapatkan kritikan rajam dari sejumlah pihak. Sebab, dana tersebut rentan hanya dijadikan bancakan untuk mempertebal kantong pribadi saja.
Sebelumnya, Sekretaris Komisi D DPRD Sumenep Moh. Imran mengatakan, meskipun dirinya masih belum mengetahu soal polemik yang terjadi antara Ponpes An-nuqayah Guluk-Guluk, dengan Kemnag Sumenep, namun dirinya mengaku sangat kecewa. Sebab, tindakan yang dilakukan oleh salah satu oknum kemanag dinilai telah menderai institusi yang ada.
”Prinsipnya kami masih belum tahu persisi persoalan itu, karena masih belum dapat laporan. Namun, jika benar kami sangat menyangkan. Maknya kami akan melakukan pemanggilan nantinya,” kata dia.
Menurut Imran, pemanggilan yang akan dilakukan, itu sebagai langkah kongkrit dirinya selaku wakil rakyat di gedung parlemen. ”Kami akan memfasilitasi persolan itu, sehingga persolan yang sedang dialami tidak menjadi isu liar saja. Sehingga, persoaln yang sedang menyelimuti kedunya bisa segera diselesaikan,” terangnya.
Haya saja dirinya tidak bisa mementukan hari pemanggilan, sebab takut berbenturan dengan agenda internal Dewan.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




