PCNU Tolak Sistem Ahwa, Dianggap Manuver Elite dan Bertentangan dengan AD/ART NU

PCNU Tolak Sistem Ahwa, Dianggap Manuver Elite dan Bertentangan dengan AD/ART NU KH Saiful Chalim. foto: BangsaOnline.com

Sikap menolak juga dilontarkan Ketua Tanfidziyah PCNU Sidoarjo, KH Abdul Manaf. Ia menolak sistem Ahwa itu karena pihak-pihak yang mengusung itu adalah orang-orang yang ingin mempertahankan status quo di tubuh NU. Mereka ingin mempertahankan posisinya saat ini. Padahal suara cabang-cabang menghendaki adanya perubahan di tubuh NU. Karena kepemimpinan sekarang membuat NU kurang dinamis dan terjadinya kemandegan organisatoris di mana-mana.

''Mereka hanya ingin menjadikan NU sebagai alat legitimasi massa dan memperkuat posisi politiknya,'' kata kiai asal Bawean itu. 

Menurut Kiai Manaf, munculnya Ahwa di Jawa Timur awalnya adalah pada saat akan berlangsung Musyawarah Wilayah (Muswil) NU. Waktu itu Ahwa muncul untuk menangkal praktik riswah atau money politics dalam pemilihan kepengurusan NU. Tetapi, cabang-cabang banyak yang mempertanyakan apakah bisa dibuktikan Ahwa bisa menangkal riswah. Akhirnya semua cabang menolak, apalagi konsep Ahwa itu sendiri tidak ada dasar hukumnya. Mengingat AD/ART yang berlaku masih memberlakukan sistem pemilihan langsung.

Pihaknya juga sepakat bahwa seharusnya konsep Ahwa harus ditolak, karena tidak cukup alasan untuk bisa memberlakukan Ahwa dalam pemilihan Rais Aam maupun ketua umum tanfidziyah NU. Dalam sejarahnya, menurut dia, sejak berdirinya NU sampai sekarang hanya sekali saja Ahwa diberlakukan yaitu pada muktamatar NU ke-27 di Situbondo tahun 1984. Saat itu, karena alasan darurat, yaitu menghentikan kepemimpinan KH Idham Chalid yang terlalu lama memimpin NU, yaitu selama 28 tahun. Di samping itu juga karena alasan perubahan mendasar NU, yaitu yang semula terkungkung partai politik kembali ke khittah yakni menjadi ormas ijtima'iyah diniyah.

Rais Syuriyah NU Kota Malang, KH Hamzawi juga mengamini dua PCNU tersebut. Menurut ia, masih perlu sosialisasi yang panjang untuk bisa memberlakukan Ahwa. Karena dari segi pemahaman saja, masih sangat terbatas pengurus yang memahami konsep Ahwa itu. Ini belum lagi tingkat kesulitan dalam implementasinya, karena praktik itu belum begitu lazim dilakukan di tubuh NU.

(zis)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Mobil Dihadang Petugas, Caketum PBNU Kiai As'ad Ali dan Kiai Asep Jalan Kaki ke Pembukaan Muktamar':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO