Jumat, 23 Oktober 2020 09:03

Tafsir Al-Kahfi 29: Iman, Tidak Boleh Taqlid

Selasa, 01 September 2020 22:42 WIB
Editor: Redaksi
Tafsir Al-Kahfi 29: Iman, Tidak Boleh Taqlid
Ilustrasi.

Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*

29. Waquli alhaqqu min rabbikum faman syaa-a falyu'min waman syaa-a falyakfur innaa a’tadnaa lilzhzhaalimiina naaran ahatha bihim suraadiquhaa wa-in yastaghiitsuu yughaatsuu bimaa-in kaalmuhli yasywii alwujuuha bi'sa alsysyaraabu wasaa-at murtafaqaan

Dan katakanlah (Muhammad), “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; barangsiapa menghendaki (beriman) hendaklah dia beriman, dan barangsiapa menghendaki (kafir) biarlah dia kafir.” Sesungguhnya Kami telah menyediakan neraka bagi orang zalim, yang gejolaknya mengepung mereka. Jika mereka meminta pertolongan (minum), mereka akan diberi air seperti besi yang mendidih yang menghanguskan wajah. (Itulah) minuman yang paling buruk dan tempat istirahat yang paling jelek.

TAFSIR AKTUAL

Ayat kaji ini ada setelah Tuhan - panjang lebar - menasehati manusia agar beriman dengan mantap, selalu bersama dengan orang-orang tekun beribadah dan memproyeksikan seluruh hidupnya untuk mengunduh ridla Tuhan. Jangan sekali-kali terjerembap mencintai dunia, karena itu berpotensi melalaikan kita dari tujuan hidup yang sesungguhnya.

Tuhan itu memberi dan berkonsekuensi. Tuhan itu tidak makan, tapi memberi makan. Tuhan juga tidak minum, tapi memberi minum. Tuhan sangat konsekuen dan mengapresiasi terhadap amal perbuatan hamba-Nya. Mereka yang patuh, ditempatkan di surga, dan yang durhaka ditempatkan di neraka. Kayak perlakuan kita: siswa yang prestasi diberi beasiswa, sedangkan yang melakukan tindak pinada dipenjara.

Karena kebesaran-Nya, Tuhan hanyalah menyediakan berbagai fasilitas dengan segenap konsekuensinya. Sesuai kemanusiaannya. Manusia diberi kemampuan berpikir secara sehat, kemampuan memilih secara bebas, dan kemampuan bertindak secara luas. Untuk itu, Tuhan sama sekali tidak mengintervensi manusia agar berbuat ini atau berbuat itu.

Dan terbacalah pada ayat ini, bahwa Tuhan bersikap sangat "demokratik" kepada hamba-Nya. Mau beriman, mau kafir, tidak ada urusan bagi-Nya. "fa man sya' falyu'min wa man sya' falyakfur". Ada beberapa yang bisa digali dari ayat kaji ini:

Pertama, tidak boleh ada paksaan dalam beragama. Beragama itu harus lahir dari kesadaran sendiri, pilihan sendiri, keputusan sendiri. Perkara penyebab, itu soal perantara belaka. Dirayu, didorong, dipaksa macam apapun, kalau hati menolak, ya tidak mau. Jika dipaksa, lalu mau, maka berarti bukan kesadaran.

Jangankan dipaksa, ikut-ikutan saja tanpa mengerti maksudnya, maka dianggap belum beriman. Al-Imam Ibn Araby berkata ", La yajuz al-taqlid wa al-muqallid kafir". Dalam beriman tidak boleh taqlid, ikut-ikutan. Yang taqlid masih dihitung kafir.

Anak kecil yang ikut-ikutan shalat, ngaji dll? Ya, dia tidak dihitung pelaku, tapi Tuhan memberikan reward pahala kepada orang tuanya, pendidiknya. Tapi tidak terhadap kejahatan. Si kecil berbuat jahat, dia tidak berdosa dan orang tuanya juga tidak tertimpakan dosa. Si kecil merusak barang orang lain? Orang tuanya wajib mengganti, karena itu hak adam. Kok dia dipenjara tatkala melakukan tindak pidana? Ya, itu aturan negeri ini, sifatnya edukasi.

Kedua, tidak boleh "menyonyol-nyonyolkan", memurah-murahkan islam demi menarik orang lain masuk islam. Berdakwah sungguh diperintah, tetapi tetap dengan menampilkan kebesaran islam, keutuhan syariah secara kaffah, menyeluruh. Tidak sama ketika agama yang didakwahkan secara bertahap, maka ibarat proyek atau bangunan yang belum jadi. Jangan dinilai dulu.

Semisal "waktu telu" di Nusa Tenggara dulu, yang diartikan sebagai shalat tiga waktu. Hal demikian disinyalir karena keluwesan dan kesabaran pendakwah awal. Sang kiai baru mendidik shalat wajib tiga kali dalam sehari semalam, lalu beliau meninggal sebelum sempurna mengajari shalat lima waktu. Oleh umat, dipahami bahwa shalat wajib hanya tiga kali.

*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir, Pengasuh Rubrik Tafsir Alquran Aktual HARIAN BANGSA, dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.   

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Senin, 19 Oktober 2020 22:35 WIB
KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Kabupaten Kediri ternyata memiliki air terjun yang luar biasa indahnya. Namanya Air Terjun Ngleyangan. Sayangnya, untuk mencapai air terjun yang konon pernah dijadikan tempat bertapa Raja Kediri itu, sangat sulit ...
Senin, 12 Oktober 2020 19:15 WIB
Oleh: M Mas’ud Adnan --- Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) minta para kepala daerah meniru Jawa Timur dan Sulawesi Selatan dalam menangani Covid-19. Dua provinsi tersebut – menurut Jokowi - mampu menekan angka kasus Covid-19."Saya mencata...
Kamis, 22 Oktober 2020 10:40 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*34. wakaana lahu tsamarun faqaala lishaahibihi wahuwa yuhaawiruhu anaa aktsaru minka maalan wa-a’azzu nafaraandan dia memiliki kekayaan besar, maka dia berkata kepada kawannya (yang beriman) ketika bercakap-ca...
Sabtu, 17 Oktober 2020 14:42 WIB
>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<...