Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada acara Expose Produk Olahan Makanan Non Beras di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (19/8). foto: ist/ bangsaonline.com
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak masyarakat kembali melakukan Gerakan Diversifikasi Pangan Lokal yang hari ini dicanangkan oleh Menteri Pertanian Republik Indonesia.
Utamanya, untuk makanan-makanan berbahan dasar non beras, seperti singkong, ketela, tales, garut, kentang, hingga jagung.
BACA JUGA:
- Sambut Kepulangan Kloter Pertama Jemaah Haji dari Jawa Timur, Khofifah Apresiasi Layanan Imigrasi
- WFH ASN Jatim Bergeser ke Jumat Mulai Juni, Gubernur Khofifah: Ikuti Arahan Mendagri
- Pecel Masuk 10 Besar Salad Terbaik Dunia, Khofifah: Bukti Kuliner Jatim Mendunia
- Peringatan Hari Lanjut Usia Nasional 2026, Gubernur Khofifah Hadir di Layanan Kegiatan Jawara
Melalui gerakan diversifikasi pangan lokal, masyarakat diajak kembali untuk mengonsumsi berbagai makanan tradisional yang mengandung karbohidrat sebagai pengganti nasi. Selain mendukung program pemerintah, gerakan ini juga bisa menumbuhkan rasa cinta tanah air sekaligus meningkatkan pertumbuhan UMKM makanan di Jawa Timur.
“Hari ini kita bisa membangun patriotisme dan nasionalisme melalui Diplomasi Makanan Lokal. Betapa tidak, tiwul dan gatot dari Blitar ternyata saat pandemi Covid-19 pun tetap ekspor ke Taiwan, Hongkong, Malaysia dan Singapore,” ungkap Gubernur Khofifah pada acara Expose Produk Olahan Makanan Non Beras di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Rabu (19/8).

Yang cukup menggembirakan, ungkap Khofifah, beberapa produk olahan makanan non beras yang mampu menembus pasar ekspor yaitu gatot dan tiwul, ternyata memiliki pasar fanatik, terutana warga Jawa Timur yang berada di luar negeri. Bahkan, dalam satu bulan, salah satu pengusaha gatot dan tiwul mampu mengirimkan hingga 2 kontainer ke Hongkong, Taiwan, Malaysia, dan Singapura.
"Tiwul dan gatot ini pun juga sudah dikemas sedemikian rupa sehingga bisa dikirim ke luar negeri tanpa mengurangi rasa dan kandungan vitamin di dalamnya. Masyarakat Indonesia khususnya Jatim juga harus bisa mengonsumsi sekaligus memasarkan makanan khas lokal ini," tandas Khofifah.
Sementara itu, Khofifah menambahkan 33 persen PDRB Jawa Timur di-support oleh Industri Makanan dan Minuman (Mamin). Dengan melihat fakta tersebut, penguatan masif kepada sektor mamin, utamanya pengenalan pada produk berbahan baku pangan lokal seperti ganyong, garut, dan jelarot, menjadi satu hal yang menjanjikan.
“Itu artinya bahwa, kalau ini bisa kita kembangkan, rasanya ini akan memberikan siginifikansi terhadap kemungkinan berkurangnya impor gandum, mengingat opsi bahan baku kue menjadi variatif,” tuturnya optimis.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




