Senin, 10 Agustus 2020 22:26

​Redam Penyebaran Corona Lewat Tracing Wilayah, Bamag-LKKI: Desa Wage Mampu Tangani Covid-19

Rabu, 08 Juli 2020 16:24 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Catur Andy
​Redam Penyebaran Corona Lewat Tracing Wilayah, Bamag-LKKI: Desa Wage Mampu Tangani Covid-19
Bamag-LKKI saat menyampaikan telaah terkait pembendungan virus corona di Balai Desa Wage Sidoarjo.

SIDOARJO, BANGSAONLINE.com - Virus corona berpotensi merebak di Desa Wage, Kecamatan Taman. Sebab, kawasan itu merupakan salah satu pusat urban di Kota Delta. Namun, hingga kini prediksi itu tak terbukti. Virus yang berasal dari Tiongkok itu justru melandai.

Dari data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Sidoarjo, dahulu Desa Wage sempat nangkring pada urutan pertama penyebaran corona di Kecamatan Taman karena semakin banyak warga yang terpapar. Namun, kini posisinya digantikan oleh Kelurahan Wonocolo.

Jumlah warga Desa Wage yang terinfeksi corona mencapai 40 orang. Lebih rendah dibandingkan Kelurahan Wonocolo yang totalnya 45 pasien positif. Lewat bukti data tersebut, Desa Wage dianggap mampu meredam corona.

Capaian itu menarik perhatian Badan Koordinasi AntarGereja-Lembaga Keagamaan Kristen Indonesia (Bamag-LKKI). Selama dua minggu, organisasi tersebut turun ke Desa Wage. Menelaah upaya desa membendung corona.

Rabu (8/7/2020), hasil telaah Bamag-LKKI itu disampaikan di Balai Desa Wage. Ketua Bamag-LKKI, Agus Susanto menjelaskan, Desa Wage sengaja dipilih. Sebab, dari kajian sementara wilayah tersebut memiliki potensi besar menjadi episentrum corona. "Corona bisa meledak di Wage," terangnya.

Telaah sementara itu berdasarkan pemantauan wilayah. Desa Wage merupakan desa urban. Terlihat dari komposisi penduduknya. Presentasenya 90 persen pendatang, sedangkan sisanya 10 persen warga asli. Selain itu, Desa Wage juga terdapat dua pabrik besar, yakni PT Maspion dan PT Ispat Indo. "Tentunya banyak rumah kontrakan serta rumah kos," jelasnya.

Tak hanya itu, warga Desa Wage juga banyak yang bekerja di luar kota. Salah satunya Surabaya. Potensi lain, di Desa Wage terdapat kuliner, pasar, serta pusat keramaian. "Penduduknya sangat padat mencapai 23 ribu jiwa," terangnya.

Namun, Desa Wage ternyata mampu mengendalikan corona. Kunci keberhasilan terletak pada pemetaan wilayah. Agus menyebutnya tracing lingkungan.

Di Desa Wage, pihak desa memetakan geografis. RT/RW dipelototi. Dari total 16 RW, desa melakukan pemilahan. Sebanyak 10 RW merupakan wilayah perumahan, sedangkan 6 RW lain, yakni perkampungan.

Data lebih didetailkan lagi. Desa memilah warga berdasarkan jenis profesi, serta berdasarkan usia. "Sehingga tahu warga lansia yang berpotensi terpapar corona," ucap Agus.

Nah, dengan tracing lingkungan, penanganan corona berjalan cepat. Langkah preventif berjalan. Warga yang dinyatakan reaktif langsung menjalani isolasi mandiri. Pihak desa dapat langsung menemukan bahwa warga tersebut sering beraktivitas atau kontak dengan siapa saja.

Menurut Agus, tracing wilayah sebenarnya berkebalikan dengan langkah pemerintah. Sesuai aturan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI, jika menemukan pasien Covid-19, langkah selanjutnya uji swab, baru menangani lingkungan. Kelemahannya, deteksi warga yang terpapar lambat.

Berbeda dengan cara di Desa Wage. Sebelum adanya kasus corona, wilayah dipetakan. Kawasan mana yang berpotensi terpapar corona. Setelah itu, langkah preventif berjalan. Seperti penyemprotan disinfektan, hingga membentuk kampung tangguh.

Agus mengatakan, metode yang digunakan Desa Wage bisa menjadi percontohan nasional. Dengan tracing lingkungan, desa semakin cepat menekan laju corona. "Karena preventif yang diutamakan," terangnya.

Sementara itu, Kades Wage, Bambang Heri Setiono mengatakan, sebelum tracing wilayah dijalankan, kasus corona terus melonjak. Bahkan, sempat menempati urutan pertama di Kecamatan Taman. "Karena padat penduduk serta diapit wilayah industri," ucapnya.

Pihak desa lantas menjalankan tracing wilayah. Seluruh kawasan yang berpotensi terpapar corona dipetakan. Selain itu, Bambang juga tegas, yakni menindak warkop yang tak patuh aturan. "Jam 22.00 WIB tutup ya harus tutup. Kalau bandel kami obrak," pungkasnya. (cat/zar)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Senin, 10 Agustus 2020 20:48 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Tidak tanggung-tanggung, Pemkab Ngawi telah menyiapkan anggaran dari APBD senilai Rp 9,1 miliar untuk membuat area yang digadang-gadang akan menyerupai kawasan Malioboro Jogja.Budi Sulistyono, Bupati Ngawi melakukan pen...
Senin, 10 Agustus 2020 18:53 WIB
Oleh: M Mas'ud AdnanApollinaris Darmawan - seorang kakek – sangat rajin menghina dan memfitnah agama Islam dan Nabi Muhammad. Dari jejak digitalnya, Apollinaris yang non muslim itu kurang lebih 10 tahun menghina Islam dan juga tokoh-tokoh Islam ...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...