Sabtu, 08 Agustus 2020 01:56

Waspadai Chikungunya dan DBD yang Mengintai di Masa Pandemi: Konsumsi Makanan Bergizi

Kamis, 25 Juni 2020 15:21 WIB
Editor: Nizar Rosyidi
Wartawan: Muji Harjita
Waspadai Chikungunya dan DBD yang Mengintai di Masa Pandemi: Konsumsi Makanan Bergizi
Salah satu pasien Chikungunya saat dirawat. (foto: ist).

KEDIRI, BANGSAONLINE.com - Di tengah pandemi Covid-19 yang sedang berlangsung, warga Kota Kediri diminta mewaspadai penyakit chikungunya dan DBD (Demam Berdarah Dengue). Serangan ini paling banyak terjadi antara pukul 10.00 sampai 12.00 WIB.

Direktur RSUD Gambiran Kota Kediri, Dr. Fauzan Adima M.Kes., mengingatkan ancaman chikungunya dan DBD yang mengintai saat ini. Jumlah penderita chikungunya pada bulan Juni ini, merupakan yang tertinggi sejak awal tahun 2020.

“Jumlah penderita chikungunya pada bulan Juni ini sebanyak 128 orang. Paling banyak ditemukan di Kecamatan Mojoroto, yakni sebanyak 88 orang,” kata Fauzan Adima, Kamis (25/6/2020).

Keberadaan pasien chikungunya di Kecamatan Mojoroto, tersebar di Puskesmas Campurejo (23 orang) dan Puskesmas Sukorame (65 orang). Dengan lokasi terjangkit di Kelurahan Campurejo, Tamanan, Sukorame, Bujel, dan Mojoroto.

Temuan pasien chikungunya lainnya, berada di Kelurahan Banaran (40 orang) yang saat ini menjalani perawatan di Puskesmas Pesantren. Jumlah ini meningkat tajam dari bulan sebelumnya, Mei 2020 yang hanya 17 orang. Kasus itu juga hanya terjadi di Kelurahan Mojoroto saja. Sejak bulan Januari hingga akhir Juni 2020, jumlah keseluruhan kasus chikungunya di Kota Kediri, sebanyak 191 kasus.

Berbeda dengan chikungunya yang jumlahnya tinggi, temuan kasus DBD cenderung kecil. Sejak Januari hingga Bulan Mei 2020, jumlah pasien DBD sebanyak 100 orang. Mereka tersebar merata di Kecamatan Mojoroto, Kota, dan Pesantren. Angka tertinggi kasus DBD terjadi di bulan Maret sebanyak 30 kasus, sedangkan data bulan Mei jumlahnya mulai turun menjadi 15 kasus.

Fauzan Adima menambahkan, penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus melalui gigitan nyamuk aedes aegypti ini memang kerap terjadi di daerah tropis, seperti Indonesia. Demam chikungunya dan DBD memiliki banyak kemiripan pada tahap awal, sehingga kerap terjadi salah diagnosis untuk pengobatannya.

Nyamuk aedes aegypti memiliki karakteristik dalam menggigit manusia. Nyamuk ini beroperasi antara pukul 10.00-12.00 WIB. Dalam beberapa kasus, nyamuk ini juga menyerang pada pukul 16.00-17.00 WIB atau sebelum magrib.

“Penting untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan di masa pandemi ini. Selain kebersihan diri untuk mencegah corona, juga mengantisipasi gigitan nyamuk,” kata Fauzan Adima.

Pada serangan pertama, gejala klinis yang muncul akibat gigitan nyamuk adalah demam, sakit kepala, nyeri sendi dan otot, serta ruam. Fase berikutnya mulai terdapat perbedaan pada DBD, di mana pasien bisa mengalami pendarahan ringan hingga neutropenia.

Perbedaan lainnya adalah demam chikungunya memiliki masa inkubasi virus sekitar 1-12 hari, sedangkan gejala dan penyakitnya bisa berlangsung sekitar satu hingga dua minggu.

"Untuk penderita DBD masa inkubasinya 3-7 hari, dengan durasi penyakit bisa berlangsung dari 4-7 minggu, tergantung sistem kekebalan tubuhnya. Maka dari itu, disarankan untuk mengonsumsi makanan yang bergizi dan berolahraga teratur," tutupnya. (uji/zar)

Disnak Jatim Pastikan Telur yang Beredar Aman dan Sehat untuk Dikonsumsi
Rabu, 20 November 2019 13:57 WIB
Kepala Disnak Jatim, Wemmi Niamawati melakukan kampanye telur ayam Jawa Timur sehat, bebas zat beracun bersama staf di halaman Kantor Disnak Jatim.Dinas Peternakan Provinsi Jawa Timur dengan melaksanakan kampanye "Telur Ayam Jawa Timur Sehat Bebas Za...
Jumat, 24 Juli 2020 19:36 WIB
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Kreatif. Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan apa yang sudah dilakukan oleh Pemkot Surabaya dalam usahanya mempercantik kawasan Ekowisata Mangrove Medokan Sawah. Betapa tidak, dari sejumlah barang-barang bekas, sepe...
Kamis, 06 Agustus 2020 20:34 WIB
Oleh: Prof Dr Rochmat WahabPada hakekatnya manusia bermula dari lahir, tumbuh dan berkembang mencapai puncak, menurun dan berakhir dengan wafat. Inilah sunnatullah, normalnya manusia, walau pada prakteknya ada juga yang dipanggil Allah SWT, s...
Minggu, 02 Agustus 2020 22:39 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag*25. Walabitsuu fii kahfihim tsalaatsa mi-atin siniina waizdaaduu tis’aanDan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.26. Quli allaahu a’lamu bimaa labitsuu lahu ghaybu als...
Senin, 03 Agustus 2020 11:04 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Prof. Dr. KH. Imam Ghazali Said, M.A.. Kirim WA ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan ala...