Ilustrasi.
TAFSIR AKTUAL:
Ayat sebelumnya bertutur tentang pelaut yang ingkar setelah diselamatkan dari badai. Di daratan, mereka berlagak lagi, kufur lagi, dan maksiat lagi, seolah dirinya jagoan dan aman terus.
Lalu ayat studi ini mengancam, janganlah kalian berlagak demikian, karena Tuhan sangat mampu mengahajar kalian saat sudah aman di daratan. Bisa dengan bumi itu sendiri, seperti longsor, gempa, atau tanah dibalik, yang atas jadi bawah, dan yang bawah jadi atas seperti menimpa umat terdahulu, bahkan terjadi pula di negeri ini.
Jangan merasa aman saat aman di bumi, karena Tuhan bisa saja menenggelamkan kalian di kesempatan lain, saat kalian melaut lagi. Ingatlah, kekufuran yang kalian lakukan di bumi, bisa saja azabnya diturunkan di laut. Lalu, rayuan kalian tak lagi gubris. Angin darat membuntuti kalian berlayar, lalu menenggelamkan kalian. "... fayursila ‘alaykum qaasifan mina alrriihi fayughriqakum bimaa kafartum".
Pitutur ayat studi ini sudah sangat jelas, bahwa pengingkaran terhadap Tuhan, tidak bersyukur dan lalai ibadah sungguh menyebabkan Tuhan murka. Lebih dari itu, minimalisirlah perbuatan maksiat, karena kemaksiatan pasti punya efek keburukan yang menimpa. Untung Tuhan maha pengampun dan tak bosan menerima tobat kita. Untung Tuhan maha pemberi, meski kita durhaka, Dia tetap memberi.
*Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag adalah Mufassir dan Pengasuh Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ), Tebuireng, Jombang.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




