Sumiati saat mempersiapkan diri untuk keberangkatannya menuju tanah suci didampingi putri keduanya. foto: ist
SURABAYA, BANGSAONLINE.com - Sumiati, lansia berusia genap 107 tahun asal kelompok terbang (kloter) 53 ini menjadi JCH tertua di Embarkasi Surabaya. Ia berucap syukur berulang kali, di usianya yang satu abad lebih ini masih diberikan kesempatan untuk dapat menunaikan rukun islam yang kelima.
Keinginan untuk bisa pergi haji telah lama terpendam pada diri nenek asal Dusun Bakalan, Desa Pulorejo, Kecamatan Ngoro Kabupaten Jombang ini. Pasalnya, ia belum memiliki kecukupan uang untuk membayar Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Ia sering berdoa agar di sisa usianya, ia mampu menjalankan ibadah haji ke Baitulloh.
BACA JUGA:
- Halaqah Keuangan Haji Kediri: Strategi BPKH Optimalkan Dana Jemaah dan Solusi Pangkas Antrean
- Mengapa Dam Haji Tidak Bisa Dipindahkan ke Indonesia
- Kemenhaj Tegaskan Larangan Jemaah Haji Ikut Ziarah dan City Tour Sebelum Puncak Armuzna
- Cuaca Musim Haji 2026 Hari Ini: Makkah Tembus 41 Derajat, Kelembapan Madinah Cuma 14 Persen
Doa pun terjawab. Kedua anaknya yang masih hidup patungan membiayai BPIH nenek Sumiati pada tahun 2016 lalu. Melalui program percepatan usia lanjut, nenek 4 cucu ini akan diterbangkan bersama 449 JCH lainnya menuju Bandara Internasional Jeddah melalui penerbangan SV 5601, Rabu (24/7) pukul 15.00 WIB tadi sore.
Saat ditemui di Embarkasi Surabaya, kondisi Sumiati tampak sehat. Dengan umur lebih dari satu abad, suaranya pun masih terdengar jelas, meski sangat pelan. Indera pendengaran dan penglihatannya pun masih normal, tanpa menggunakan alat bantu. Ia pun masih mampu berjalan sendiri meskipun sangat pelan dalam jarak dekat.
Ia lantas mengungkapkan kebiasaan hidup sehatnya selama ini. Salah satunya, selalu makan sayuran dan minum air putih.
“Saya makannya kulupan (red: sayuran) dari hasil kebun sendiri. Minumnya selalu air putih. Alhamdulillah selama ini saya hampir tidak pernah sakit,” tutur nenek yang masih rutin menjalankan puasa Senin Kamis hingga usia senjanya ini.
Selain itu, tambah nenek kelahiran 1 Juni 1912 lalu, ia juga rutin melakukan ritual hariannya bangun pagi pukul 03.00 WIB, lantas mandi untuk menjalankan sholat tahajud sejak usia 30 tahun.
“Alhamdulillah, setiap hari saya bangun jam tiga pagi, lalu mandi. Setelah itu sholat tahajud, sekalian nunggu shubuh. Setelah sholat shubuh, saya tidur lagi,” tuturnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




