Minggu, 19 Agustus 2018 12:33

Sekilas Menyimak Tradisi Tetaken Gunung Limo Pacitan

Selasa, 08 Mei 2018 11:08 WIB
Editor: Revol Afkar
Wartawan: Yuniardi Sutondo
Sekilas Menyimak Tradisi Tetaken Gunung Limo Pacitan
Suasana saat upacara Tetaken di Gunung Limo. (foto: ist)

PACITAN, BANGSAONLINE.com - Bukan hanya larung sesajen ritual tradisi yang biasa digelar masyarakat Pacitan saat memperingati pergantian tahun Islam. Namun ada satu budaya cukup sakral yang mungkin belum begitu dikenal masyarakat, yaitu Tetaken.

Sebagaiman diketahui, Kabupaten Pacitan terletak 524 Km sebelah timur dari Ibu Kota Jakarta dan 209 Km arah barat daya dari kota Surabaya. Kabupaten yang terkenal dengan Gunung Limo ini mempunyai tradisi yang cukup unik. Karena menganut penanggalan Jawa, yaitu tepat pada 1 Syuro, diadakan beberapa kegiatan untuk memperingati bulan baru Hijriyah.

Beberapa di antaranya adalah pengajian, melekan, tirakatan, perajahan, larung sesaji dan napak tilas sejarah. Sedangkan di Gunung Limo sendiri, beberapa orang melakukan teteki atau bertapa di bulan itu. Selanjutnya para pertapa tersebut disambut oleh masyarakat dalam bentuk perayaan Tetaken yang diadakan setiap tanggal 15 bulan Syuro.

Salah seorang pemerhati sejarah di Pacitan Ki Ageng (KA) Jolothundo mengatakan, Tetaken berasal dari kata tetekian. Teteki mendapat imbuhan “an” (tetekian) yang berarti pertapa-an. Yaitu bermakna tempat pertapaan. Karena karakter bahasa setempat untuk mempermudah penyebutan, maka kata tetekian berubah pengucapannya menjadi tetaken tanpa mengurangi makna sesungguhnya.

"Tradisi tersebut diadakan untuk mengingat kembali proses datangnya Eyang Tunggul Wulung dan Mbah Brayut ke Gunung Limo dan menetap di lereng Gunung Limo," ujarnya, Selasa (8/5).

Digambarkan dalam ritual ini, sang juru kunci Gunung Limo turun gunung bersama para cantriknya yang sekaligus murid-muridnya. Mereka baru selesai menjalani tapa di puncak gunung dan akan kembali ke tengah masyarakat. Bersamaan turunnya para pertapa dari puncak gunung, iring-iringan warga muncul menyambut para pertapa memasuki area upacara.

"Masyarakat mengenakan pakaian adat Jawa. Barisan paling depan adalah pembawa panji dan pusaka Tunggul Wulung (Panji Tunggul Wulung, Keris Hanacaraka, Tombak Kyai Slamet, dan Kotang Ontokusumo/Jubah Hitam pertapa)," cerita Jolothundo.

Di Pacitan, lanjut dia, terdapat lokasi pendadaran (pelatihan kanuragan dan kebatinan) yang berpusat di Gunung Limo. Pendadaran prajurit kemudian lazim disebut sebagai wisudan Tunggul Wulung (wisuda yang dilakukan oleh Tunggul Wulung). Prajurit Mataram melakukan pendadaran olah kanuragan dan kebatinan kepada pemuda-pemuda di desa-desa dengan tujuan memperkuat pertahanan kerajaan apabila sewaktu-waktu ada peperangan.

Pembekalan yang dilakukan oleh prajurit Mataram di bawah Panji Tunggul Wulung tidak hanya olah fisik saja kepada generasi muda. Melainkan mengajarkan ilmu kasepuhan kepada masyarakat. Memantabkan ajaran Islam secara esketik dikombinasi dengan penanaman prinsip-prinsip pengabdian kepada negara.

"Mendekatkan hubungan kerajaan dengan masyarakat sekaligus mempereratnya. Kegiatan penanaman mental bela negara, olah kaprajuritan, kepatuhan kepada raja dan kerajaan, nilai nilai-nilai moral, spiritual lahir dan batin oleh prajurit Mataram Tunggul Wulung ini di kemudian hari menjadi sebuah tradisi dari generasi ke generasi yang disebut dengan Tetaken," pungkasnya. (yun/rev)

Sabtu, 11 Agustus 2018 16:43 WIB
Oleh: Ach. Taufiqil Aziz*Sekitar jam 17.00, pada 9 Agustus 2018, kami sekeluarga masih menonton stasiun televisi tentang pengumuman Cawapres Jokowi. Di televisi, beberapa stasiun dan pengamat sudah menganalisa bahwa Mahfud MD (MMD) yang akan menjadi ...
Kamis, 16 Agustus 2018 17:26 WIB
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag. . .   In ahsantum ahsantum li-anfusikum wa-in asa'tum falahaa fa-idzaa jaa-a wa’du al-aakhirati liyasuu-uu wujuuhakum waliyadkhuluu almasjida kamaa dakhaluuhu awwala marratin waliyutabbiruu maa ‘al...
Dr. KH. Imam Ghazali Said
Sabtu, 18 Agustus 2018 10:03 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...
Rabu, 08 Agustus 2018 10:41 WIB
TUBAN, BANGSAONLINE.com - Asosiasi Wisata Gua Indonesia (Astaga) dan Mahasiswa Pecinta Alam (Mahipal) Unirow Tuban akhirnya memaparkan data pemetaan gua di Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban. Data tersebut dikeluarkan setelah tim me...