Khanis Suvianita yang sekarang sedang mengambil doktor di UGM mengatakan, terjadi kebencian begitu panjang kepada kelompok Tionghoa karena sudah didesain matang sejak zaman orde baru. Politik segregasi begitu kuat, kebijakan-kebijakan pemerintah begitu membatasi ruang gerak orang-orang Tionghoa untuk berekspresi.
Buku ini bukanlah buku yang bersifat akademis, tetapi buku yang sederhana dengan pengalaman riil kehidupan sehari-hari. Kunci buku ini adalah terbuka dan jujur terkait dengan pengalaman hidup dengan liyan (orang lain). Karena dengan demikian, kita memiliki kesadaran hidup sebagai anak bangsa.
Pembuatan buku ini digagas oleh Aan Anshori, dikarenakan rasa ikatan solidaritas berbangsa semakin mereduk di tengah agama dan etnis menjadi alat untuk menebarkan kebencian.
“Apabila kita merasa bahwa kelompok kita jauh lebih unggul dan hebat, sebenarnya kita sedang berlaku tidak adil di dalam pikiran kita,” tegas Aan Anshori yang menjadi koordinator Jaringan Islam Anti Diskriminasi.
“Dua etnis antara Jawa dan Cina ini seolah-seolah saling membenci dan bermusuhan sejak lama. Kami sebagai orang Islam dan sekaligus Jawa seperti orang kolesterol (kelebihan lemak) sehingga gampang kejang kalau berdekatan antara orang Tionghoa,” ucap pria yang akrab disapa Gus Aan itu.
“Padahal Tuhan sudah memerintahkan kita untuk berlaku adil dan berbuat kebaikan kepada semua orang (ihsan), tanpa terkecuali. Hanya dengan cara demikian peradaban bangsa Indonesia menjadi lebih baik dan tidak akan bubar di tahun 2030,”tegas Aan.
Acara ini dihadiri oleh puluhan anggota jemaat GKI Mojokerto, PMII Mojokerto, Gusdurian, pemuda Muhammadiyah, klenteng TITD Klenteng Hok Siang King dan MAN Soko Mojokerto. (ony/ns)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




