Kamis, 24 Januari 2019 10:43

Tafsir Al-Isra 2-3: Justru Ustadznya Malah yang Menselebritis

Senin, 19 Maret 2018 19:42 WIB
Editor: Redaksi
Wartawan: -
Tafsir Al-Isra 2-3: Justru Ustadznya Malah yang Menselebritis
Ilustrasi: nalarpolitik.com

Wa-aataynaa muusaa alkitaaba waja’alnaahu hudan libanii israa-iila allaa tattakhidzuu min duunii wakiilaan (2).

Dzurriyyata man hamalnaa ma’a nuuhin innahu kaana ‘abdan syakuuraan (3).

Setelah membicarakan isra' nabi Muhammad SAW yang tidak sekadar sangat menakjubkan, melainkan lingkungannya diberkahi (barakna haulah), kini Tuhan mengangkat dua sosok nabi masa lalu yang banyak mengukir sejarah dan kiprahnya spektakuler. Mereka adalah nabi Musa A.S. dan nabi Nuh A.S.

Musa A.S. diberi kitab suci al-Taurah sebagai panduan hidup bagi bani Israil, yakni hanya bertuhan Allah SWT saja. Tapi ternyata mereka justru menyimpang. Begitu halnya Nuh A.S. sebagai rasul pertama yang dilawan secara besar-besaran oleh umatnya sendiri. Musa berhadapan dengan pengaku Tuhan tertinggi, Fir'aun. Sementara umat nabi Nuh menyembah patung yang diambil dari lima orang shalih, yaitu: Wadd, Suwa', Yaghuts, Ya'uq dan Nasr Nuh dikucilkan.

Dua nabi tersebut diangkat sebagai referensi yang arahnya antara lain, agar Rasulullah SAW tidak bersedih dan tetap tangguh saat dimusuhi kaumnya sendiri. Nabi tidak boleh merasa sendirian, karena begitulah lakon para utusan Tuhan terdahulu, biasa diperlakukan tidak nyaman oleh kaumnya sendiri. Tapi para rasul itu tetap sukses.

Kalian yang meneruskan dakwah Rasulullah SAW, jangan berpikir yang enak-enak saja, meskipun nyatanya, kehidupan para juru dakwah sekarang, apalagi yang memilih di dunia entertainment nampaknya banyak menonjolkan sisi selebritis ketimbang sisi pengabdi agama yang tawadlu' dan sederhana. Tidak berarti seorang kiai atau ustadz harus miskin atau berpenampilan lusuh, melainkan bersahaja, tapi tetap wibawa.

Anggapan sebagian orang, bahwa kiai harus kaya atau nampak kaya atau harus berpamor dengan balutan duniawi, baik dilambangkan dengan mewahnya kendaraan atau sandangan demi menambah martabat diri, tidak mutlak benar. Satu sisi memang agar tidak diremehkan oleh orang-orang kaya yang bermoral material. Contohnya nabi Sulaian A.S. yang berhadapan dengan ratu elitis dari negeri Saba', Bilqis namanya.

Terhadap Bilqis, al-Qur'an menirukan laporan burung Hudhud, bahwa ratu ini kaya raya dan punya segala. Lalu dihadapi oleh nabi Sulaiman A.S. yang tak kalah kaya bahkan digdaya. Ternyata dengan kelengkapan yang dimiliki, akhirnya Bilqis tunduk di pangkuan Sulaiman A.S.

Ya, itu benar, tapi sisi lain justru menambah silaunya pandangan orang-orang miskin kepada kiai elitis. Terhadap ilmunya saja, mereka sudah silau, maka jangan ditambah dengan pamor kekayaan. Nabi Nuh A.S. dan nabi Musa A.S. yang diangkat dalam ayat studi ini tidak memamorkan kekayaan, tapi kesederhanaan dan kepribadian yang mulia. Diriwayatkan, Nuh A.S. pernah mau menjadikan kekayaan sebagai alat berdakwah, tapi ternyata salah.

Seorang pengemis kafir dan suka melawan dakwah islamiah meminta makanan kepada Nuh. Nuh membatin, "ini kesempatan emas untuk mengajaknya masuk agama tauhid..". Lalu mengatakan “Kalau kamu mau menerima agama kami, kami akan beri makanan, kami jamin..”.

Di luar dugaan, si pengemis malah membelalak: " tidak ada urusan antara makanan dengan keimanan. Tuhan yang mencipta mulut ini pasti bertanggungjawab mengisi. Dia punya banyak cara". Nuh sadar dan menyesali.

Lain hari ketemu pengemis itu lagi, dan Nuh segera memberi makanan tanpa kata. Ketemu dan ketemu dan terus memberi tanpa kata-kata. Perlahan, si pengemis melihat kebaikan yang tulus dari diri seorang Nuh A.S. dan akhirnya beriman secara sukarela.

Rasulullah Muhammad SAW juga kaya, tapi tidak pernah menampakkan kekayaan. Justru kekayaan dihabiskan untuk menyantuni orang miskin, termasuk memerdekaan budak dan kepentingan agama lainnya. Jadinya, Rasululah SAW sangat dekat dengan orang miskin, bahkan sangat perhatian terhadap undangan orang miskin. Tidak sama dengan sebagian da'i di kalangan selebritis negeri ini. Bukan selebritinya yang mengikuti pola hidup agamis sang ustadz, malah ustadznya yang bergaya hidup selebritis.

BERITA VIDEO: Tuntut Pilpres 2019 Ada Calon Independen, Inilah Sosok yang Diusung "Tikus Pithi"
Kamis, 03 Januari 2019 13:53 WIB
NGAWI, BANGSAONLINE.com - Tikus Pithi, kelompok massa yang menggelar demo di Kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) Ngawi, Kamis (3/1) menuntut agar di Pilpres 2019 kali ini ada calon independen, alias nonparpol.Saifuddin, Korlap Tikus Pithi Ka...
Jumat, 28 Desember 2018 23:10 WIB
PAMEKASAN, BANGSAONLINE.com - Kampung Toronan Semalam yang berada di Desa Blumbungan, Kecamatan Larangan, Pamekasan, Madura memiliki keindahan tersendiri yang bisa dinikmati para wisatawan. Kampung ini cukup unik lantaran bunga Sakura yang kerap...
Suparto Wijoyo
Rabu, 23 Januari 2019 10:48 WIB
Oleh: Suparto Wijoyo*SAMPAI saat ini masih banyak pihak yang meramaikan debat capres-cawapres 17 Januari 2019 sambil menanti hadirnya agenda serupa 17 Februari 2019. Debat itu seolah tidak lapuk oleh hujan nan tiada kering oleh panas, seterik ap...
Sabtu, 19 Januari 2019 12:37 WIB
Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.Ag
Oleh: Dr. KH A Musta'in Syafi'ie M.AgAl-Isra': 20-22 20. kullan numiddu haaulaa-i wahaaulaa-i min ‘athaa-i rabbika wamaa kaana ‘athaau rabbika mahtsuuraanKepada masing-masing (golongan), baik (golongan) ini (yang menginginkan dunia) maupun (gol...
Sabtu, 10 November 2018 10:00 WIB
>>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<...