Pernah Kerja Kuli Bangunan, Kini Kaya Raya: KH Dr Asep Saifuddin Chalim MA, Putra Pendiri NU (2)

Pernah Kerja Kuli Bangunan, Kini Kaya Raya: KH Dr Asep Saifuddin Chalim MA, Putra Pendiri NU (2) Dr KH Asep Saifuddin Chalim saat menerima Prof Dr. Muhammad Taufiq Ramadan al-Buti (tengah), Dekan Fakultas Syariah Universitas Damaskus, di Pesantren Amanatul Ummah Pacet, Mojokerto, Jawa Timur. Foto: dok. amanatul ummah/djoko pitono

”Saya kuliah tahun pertama sudah ngajar. Saat itu saya tidak melamar, tapi banyak dilamar sekolah untuk mengajar,” katanya sembari menuturkan bahwa ia sempat mengajar di sekolah di Lamongan.

Perjalanan hidupnya mulai berubah. Paling tidak, untuk kebutuhan sehari-hari sudah tercukupi sampai akhirnya ia menjadi kiai yang kaya raya.

Namun ia selalu meyakini bahwa sukses yang ia raih sekarang – terutama punya besar – karena faktor do’a dan barakah ayahnya. ”Jadi ini karena barakah dari ayah saya,” katanya berulang-ulang.

Maka ia selalu bersyukur, terutama dengan cara bersedekah secara ajeg. Tiap pagi ia berkeliling di sekitar nya membagi-bagikan uang sebesar 1 juta rupiah dalam bentuk pecahan Rp 10.000 an. Uang itu dibagikan kepada siapa saja yang ditemui, seperti satpam, tetangga, polisi dan siapa saja yang mau.

”Tiap pagi saya bawa uang Rp 1 juta berupa pecahan Rp 10.000, saya berikan kepada orang-orang di sekitar ,” katanya.

Praktis Kiai Asep bersedekah Rp 30 juta tiap bulan. Belum lagi sedekah kepada para tamu yang diundang ke ndalemnya. Ia selalu memberi transport dan sarung, termasuk kepada wali santri yang sowan. ”Allah sudah berjanji, kalau kita bersyukur, Allah akan menambahi kenikmatan kita, rejeki kita,” katanya mengutip ayat al-Quran. Praktis untuk sedekah Kiai Asep mengeluarkan puluhan juta. bahkan kadang sampai ratusan juta.

Selain bagi-bagi uang Kiai Asep tiap pagi mengajak sarapan pagi sekitar 20 orang sampai 40 orang. ”Termasuk santri yang gak kerasan saya ajak makan,” ungkapnya.

Kiai Asep juga aktif mendanai kegiatan-kegiatan keagamaan asal demi perjuangan Islam. ”Terutama NU saya siap mendanai,” katanya.

Banyak sekali lembaga-lembaga keagamaan seperti Pergunu yang ia danai ketika menggelar acara di Pesantren Amanatul Ummah. ”Mulai konsumsi sampai transport peserta dan cindera mata saya yang nanggung,” katanya. Biasanya semua peserta acara itu disiapkan tas cukup bagus (bukan asal tas) yang isinya sarung atau sajadah plus amplop uang saku.MUI juga pernah menggelar acara di Pesantren Amanatul Ummah. (bersambung)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO