Diskusi Menakar dan Menimbang HTI: Pola Gerakan Mirip Lenin dan Rosa Luxemburg

Diskusi Menakar dan Menimbang HTI: Pola Gerakan Mirip Lenin dan Rosa Luxemburg Diskusi membedah buku tentang HTI dan konsep Khilafah dig?elar di kampus FISIP Unair.

"Kalau kader HTI memiliki basic ilmu agama yang kuat, pasti akan cepat tersadar dan keluar. Sedangkan yang ilmu agamanya kurang mendalam bisa dengan pendekatan ilmu sosial yang mengedepankan multiperspektif dan interpretasi," tambahnya.

Senada, Badruz Zaman pengamat dari Universitas Indonesia menegaskan bahwa HTI itu sudah selayaknya berubah menjadi parpol, bukan ormas. Pasalnya, cita-cita HTI yang ingin mendirikan dan menerapkan sistem khilafah adalah berorientasi kekuasaan seperti halnya parpol.

"Silakan berubah jadi parpol dan ikut bertarung memperebutkan kekuasaan melalui sistem demokrasi. Sayangnya HTI tak mau mengakui demokrasi," jelas Badruz

Ditegaskan Badruz, merubah ideologi negara Pancasila dengan khilafah adalah bentuk tindakan yang dapat membahayakan keutuhan berbangsa dan bernegara.

"Tindakan pemerintah membubarkan HTI itu sudah tepat. Sebab pancasila adalah perekat berbangsa dan bernegara Indonesia yang rakyatnya heterogen baik suku, ras maupun agama. Sehingga kalau HTI hendak memaksakan sistem khilafah itu sama halnya tidak pernah belajar sejarah bangsa," tegas pengurus PP GP Ansor ini.

Masih di tempat yang sama, Muhammad Sofi Mubarok menjelaskan bahwa sekarang ini negara-negara di Eropa tengah mempelajari maqosidus syariah untuk diterapkan di negara mereka disesuaikan dengan kondisi setempat. Pasalnya, mereka tahu bahwa dalam Islam mengenal sistem kepemimpinan ala kerajaan, republik, monarki, dan banyak lagi.

"Ideologi yang ditawarkan HTI itu tidak kompatibel dengan sosio culture masyarakat Indonesia sehingga justru membahayakan bangsa dan negara jika dipaksakan untuk diterapkan. Selain itu juga bertentangan dengan konsep islam rahmatan lilalamin," kata Sofi.

Ia juga sepakat dengan tindakan pemerintah yang membubarkan HTI. Pasalnya, tinggal selangkah lagi HTI sudah bisa melakukan gerakan pemberontakan sebab jumlah mereka cukup banyak, memiliki jaringan di militer dan polri bahkan ada sekitar 200 direksi BUMN merupakan simpatisan dan kader HTI.

"Pola rekrutmen dan pengkaderan HTI itu seperti cuci otak dan mendukung kekerasan dalam menegakkan khilafah dan syariat Islam dengan pemahaman monolitik. Akibatnya, orang yang ak sepaham dengan mereka dianggap ancaman bahkan jadi musuh bisa memicu disintegrasi bangsa," tutup Sofi. ‎(mdr)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Khilafah Proyek Politik Inggris? Ini Alasan Hizbut Tahrir Bolehkan Cium Cewek Bukan Muhrim':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO