Ramadhan Telah Tiba, Saatnya Panen Pahala

Ramadhan Telah Tiba, Saatnya Panen Pahala KH Cholil Dahlan, Ketua MUI Jombang. foto: RONY S/ BANGSAONLINE

Kia Cholil juga mengungkapkan, ada tiga andalan amalan dalam bulan puasa yang diajarkan Rasulullah. Pertama yaitu tadarus. “Tadarus itu ada yang membaca Al-qur’an pada malam hari serta ada yang menyimaknya. Kalau ada yang salah dalam bacaannya, maka dibetulkan,” ungkapnya.

Selanjutnya, amalan andalan kedua adalah salat malam, yaitu tarawih serta melaksanakan salat sepertiga malam. Seperti tahajud dan salat sunah lainnya. Amalan ketiga dicontohkan Rasulullah dengan menjadi dermawan. Tidak ada yang melebihi dermawannya nabi, apalagi saat bulan .

“Bulan adlah bulan berkah. Pada bulan ini umat islam diajak oleh Allah untuk merenung dan muhasabah sambil mendekatkan diri kepada Allah. Karena itulah intensitas ibadahnya umat islam selama bulan hampir penuh. Sesuai janji Allah, Apabila dia bisa maksimal menjalankan ibadah selama buan Ramadhan, maka setelah salat idul fitri semua dosa-dosanya diampuni oleh Allah,” terang Kiai Cholil.

Sementara ketika melihat kondisi bangsa Indonesia yang akhir-akhir ini muncul bom teror, keberadaan gerakan yang dianggap radikal sudah saatnya untuk intropeksi diri dalam bulan Ramadhan.

“Dengan bulan Ramadhan ini kesempatan bagi umat islam untuk intropeksi diri dalam hal kesabaran. Kita menjalankan amal soleh, mengajak orang lain berbuat baik perlu kesabaran. Dakwah mengajak orang lain berbuat baik, terutama dalam kondisi sekarang seperti Indonesia perlu mempertimbangkan tata cara dan kondisi objek dakwah kita. Karena setiap orang memiliki karakter yang tidak sama. Sehingga dibutuhkan kesabaran dalam menjalankan misi dakwah,” ulasnya.

Bagi Kiai Cholil, cara dakwah paling efektif seperti yang dilakukan walisongo untuk konteks Indonesia. Tidak perlu dengan cara mengumbar kebencian. Para wali mempertimbangkan dengan detail situasi budaya yang ada, sehingga efektif diterima dakwahnya tanpa harus menghilangkan budaya lokal yang ada.

“Kalau mencari kesalahan kelompok lain, itu tidak baik dan tidak cocok untuk kondisi Indonesia. Karena cara seperti itu hanya berusaha mencari empati, tapi tidak menghormati perbedaan orang lain. Padahal kita harus mengikuti syariat sesuai dengan perkembangan zaman. Munculnya cara yang dianggap jihad dengan melakukan bom bunuh diri di Indonesia, itu bukan cara yang sesuai dengan ajaran islam. Karena caranya justru merusak nilai-nilai keislaman yang diajarkan Rasulullah,” pungkas Kiai Cholil. (rom)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Semua Penonton Bioskop Disalami, Anekdot Gus Dur Edisi Ramadan (18)':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO