Kuliah Subuh Masjid Agung Bangkalan Ramadhan ke-23: Kuak Keutamaan Malam Lailatul Qadar

Kuliah Subuh Masjid Agung Bangkalan Ramadhan ke-23: Kuak Keutamaan Malam Lailatul Qadar KH. Ali Ghafur, Pengasuh Pondok Pesantren Al Kholqi Desa Bilaporah Kecamatan Socah Bangkalan saat isi cerah di Masjid Agung Bangkalan di H23 Ramadhan 1447 H.

BANGKALAN, BANGSAONLINE.com – Pada hari ke-23 Ramadhan 1447 Hijriah ini, Kuliah Subuh Masjid Agung Bangkalan mengangkat tema tentang tafsir Lailatul Qadar dengan menghadirkan Pengasuh Ponpes Al Kholqi, KH. Ali Ghafur sebagai keynote speaker.

Menurut Kiai Ghafur, Lailatul Qadar bukanlah sesuatu yang memiliki wujud seperti barang atau tempat, melainkan sebuah waktu penuh rahasia yang diturunkan Allah pada malam-malam terakhir Ramadan, dan merupakan malam yang lebih naik dari seribu bulan.

“Lailatul Qadar berbentuk waktu, bukan barang. Ia turun sejak setelah Magrib hingga terbit fajar, namun waktunya dirahasiakan oleh Allah,” ujar Kiai Ghafur di hadapan jemaah Masjid Agung Bangkalan.

Ia menjelaskan, setiap muslim berpotensi mendapatkan keberkahan malam tersebut, namun dengan tingkatan yang berbeda, tergantung pada kualitas amal dan kedekatan spiritual seseorang kepada Allah.

“Semua umat Islam bisa mendapatkan Lailatul Qadar, tetapi maqom atau tingkatnya berbeda sesuai amal ibadahnya,” tuturnya.

Pada malam tersebut, lanjut Kiai Ghafur, pahala amal kebaikan dilipatgandakan hingga setara dengan ibadah selama seribu bulan. Pelipatgandaan itu tidak hanya berlaku pada ibadah ritual seperti salat dan zikir, tetapi juga pada ibadah sosial, seperti sedekah dan membantu sesama.

“Yang dilipatgandakan adalah pahala amalnya. Bersedekah, berbuat baik kepada orang lain, semua termasuk ibadah sosial yang juga mendapatkan pelipatgandaan pahala,” jelasnya.

Akan tetapi, ia juga mengingatkan bahwa hukum pelipatgandaan juga berlaku pula pada perbuatan buruk.

“Jika seseorang melakukan kebaikan, pahalanya berlipat. Sebaliknya, jika melakukan keburukan, dampaknya juga bisa berlipat,” katanya.

Ia menambahkan, pada malam Lailatul Qadar, malaikat-malaikat turun ke bumi, termasuk Malaikat Jibril atas perintah Allah, untuk membawa kedamaian dan salam bagi hamba-hamba-Nya.

Menurut sejumlah riwayat, malam tersebut sering diyakini terjadi pada salah satu malam ganjil di sepuluh hari terakhir Ramadhan, dan banyak ulama menyebut malam ke-27 sebagai salah satu kemungkinan yang kuat.

Karena itu, umat Islam dianjurkan meningkatkan ibadah pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, termasuk memperbanyak doa, sedekah, dan i’tikaf di masjid.

“Di akhir Ramadhan ini, bukan hanya mengejar THR, tetapi juga mengejar Lailatul Qadar. Seolah-olah kita menanti Malaikat Jibril datang membawa salam dan keberkahan bagi rumah-rumah orang yang beribadah,” ujarnya.

Ia pun mengajak umat Islam menjadikan momentum tersebut sebagai waktu refleksi untuk meningkatkan kualitas ibadah, baik yang bersifat ritual maupun sosial.

“Setiap muslim akan mendapatkan keberkahan Lailatul Qadar sesuai dengan amal yang dilakukan. Karena itu mari kita isi malam-malam Ramadhan dengan kebaikan,” pungkasnya. (uzi/msn)