Kapolri Jenderal Tito Karnavian bersama Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Ma'ruf Amin serta Pimpinan Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab foto bersama usai konferensi pers di kantor MUI, Jakarta, Senin (28/11).
"Reaksi Kapolri berlebihan. Harusnya info terorisme bukan diumbar tapi cepat ditangkal," ujar Ketua Lingkar Madani Indonesia (LIMA) Ray Rangkuti dalam konfrensi pers di Hotel Atlet Century, Senayan, Jakarta Selatan, Senin (28/11).
Ia berharap Kepolisian bisa membuktikan ucapan Kapolri tersebut, sehingga tercipta kondisi yang aman. Dengan begitu, Aksi 212 yang digelar GNPF-MUI bisa berjalan lancar dan damai tanpa ada aktor teroris penunggang.
"Efeknya memang publik jadi malah tambah takut. Tapi memang kalau mau menbuat takutpun harusnya jangan ditakuti pakai isu teroris. Kan sudah banyak ormas dan kelompok-kelompok yang bilang tak akan ikut aksi besok," ujar Ray.
Sementara Pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Progresif Bumi Shalawat di Lebo, Sidoarjo, Jawa Timur, KH Agus Ali Mashuri (Gus Ali) mengimbau warga Nahdhathul Ulama (NU) di Jawa Timur tidak mengikuti aksi 2 Desember di Jakarta.
"Untuk warga NU di wilayah Jawa Timur tidak usah mengikuti demo 2 Desember yang akan datang di Jakarta," ujar Gus Ali, Senin (28/11).
Masyarakat kata Gus Ali, harus menghormati proses hukum tersangka penistaan agama, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Kasus Ahok saat ini tengah diteliti oleh tim jaksa di Kejaksaan Agung.
"Beri kesempatan kepada polisi. Mudah-mudahan tugas yang diemban polisi ini bisa mewujudkan supremasi hukum yang diharapkan oleh pengunjuk rasa," ujar Gus Ali. (mer/det/yah/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




