Ringkasan Berita
- Dahlan Iskan mengaku dahulu tidak bisa berbahasa Inggris dan merasa minder, sehingga dia menyekolahkan anaknya ke Amerika Serikat sejak kecil agar fasih berbahasa Inggris.
- Kemampuan bahasa Inggrisnya tertinggal karena guru bahasa Inggrisnya yang juga anggota DPR jarang mengajar, hanya dua bulan sekali.
- Dia baru mahir berbahasa Inggris secara otodidak dengan disiplin tinggi setelah menjabat bos di Jawa Pos.
- Berkat semangat dan kedisiplinan yang sama, Dahlan Iskan juga berhasil menguasai bahasa Mandarin saat sudah bekerja di Graha Pena, Surabaya.
MOJOKERTO, BANGSAONLINE.com – Ternyata Dahlan Iskan, tokoh pers nasional, mahir bahasa Inggris setelah tua. Sebelumnya ia tak bisa bahasa Inggris. Ia pun mengaku minder alias tak confidence. Karena itu ia tak ingin anaknya mengalami nasib sama dengan dirinya. Ia sekolahkan anaknya sejak kecil di Amerika Serikat.
“Waktu itu saya tidak bisa bahasa Inggris. Saya kirim anak saya ke Amerika. Saya tidak percaya Amerika membuat anak saya jadi orang pintar, tapi pasti bisa bahasa Inggris,” ujar Dahlan Iskan dalam acara Inspirasi Nasional, Pemuda Hebat yang digelar Madrasah Bertaraf Internasional (MBI) di Masjid Raya KH Abdul Chalim Pondok Pesantren Amanatul Ummah Pacet Mojokerto Jawa Timur, Selasa 12 Mei 2026.
Kenapa Dahlan Iskan yang dikenal punya disiplin tinggi sempat tak bisa bahasa Inggris? Ternyata ini terkait dengan guru bahasa Inggris saat dia duduk di bangku sekolah.
“Guru bahasa Inggris saya anggota DPR, politisi,” ujar mantan Menteri BUMN itu.
Menurut Dahlan Iskan, guru bahasa Inggris-nya jarang mengajar.
“Mengajar dua bulan sekali,” tambahnya.
Dahlan Iskan baru mahir berbahasa Inggris setelah menjadi bos di Jawa Pos. Saat itu Dahlan Iskan ngotot belajar bahasa Inggris secara otodidak. Dengan disiplin tinggi.
Nah, berkat semangat dan disiplin tinggi akhirnya mengubah segalanya. Dahlan Iskan bukan hanya mahir berbahasa Inggris tapi juga mahir bahasa Mandarin. Ia belajar bahasa Mandarin saat sudah ngantor di Graha Pena, gedung megah di Jalan A Yani Surabaya yang ia bangun saat menjabat CEO Jawa Pos.










