Muchlis M Hanafi
Pada terjemahan Kementerian Agama edisi perdana (tahun 1965), kata awliya pada Surah Ali Imran ayat 28 dan An Nisa ayat 144 tidak diterjemahkan. Dalam terjemahannya, Surah Al Nisa ayat 144, berbunyi: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir sebagai wali dengan meninggalkan orang-orang mukmin."
"Kata wali diberi catatan kaki, wali jamaknya awliya, berarti 'teman yang akrab', juga berarti 'pelindung' atau 'penolong'. Catatan kaki untuk kata wali pada Ali Imran ayat 28 berbunyi, "wali jamaknya awliya, berarti 'teman yang akrab', juga berarti 'pemimpin', 'pelindung' atau 'penolong'," jelas Muchlis.
Atas alasan itu, dia keberatan dengan penyebutan Alquran palsu, baik dari hasil penyelidikan kepolisian maupun informasi yang beredar di media sosial. Sebab, terjemahan Alquran bukanlah Alquran melainkan hasil pemahaman seorang penerjemah terhadap Alquran.
Doktor Tafsir Alquran lulusan Universitas Al Azhar Mesir ini lebih senang menyebutnya dengan terjemahan makna Alquran.
"Tentu tidak seluruh makna Alquran terangkut dalam karya terjemahan, sebab Alquran dikenal kaya kosakata dan makna. Seringkali, ungkapan katanya singkat tapi maknanya padat. Oleh sebab itu, wajar terjadi perbedaan antara sebuah karya terjemahan dengan terjemahan lainnya," paparnya.
Terkait kata atau kalimat dalam Alquran yang menyedot perhatian masyarakat dan berpotensi menimbulkan perdebatan, Kemenag menyerahkan kepada para ulama Alquran untuk membahas dan mendiskusikannya.
Saat ini, sebuah tim yang terdiri dari para ulama Alquran dan ilmu-ilmu keislaman serta pakar bahasa Indonesia dari Badan Bahasa Kemendikbud, sedang bekerja menelaah terjemahan Alquran dari berbagai aspeknya.
Tim ini terdiri dari Quraish Shihab, Huzaimah T Yanggo, Yunan Yusuf, Malik Madani, KH Ahsin Sakho Muhammad, Muchlis M Hanafi, Rosehan Anwar, Abdul Ghofur Maemun, Amir Faesal Fath, Abbas Mansur Tamam, Umi Husnul Khotimah, Abdul Ghaffar Ruskhan, Dora Amalia, Sriyanto, dan lainnya.
"Terbitan terjemah Alquran dapat menjadi sarana bagi masyarakat untuk memahami isi kandungan ayat suci. Namun, dalam memahami ayat-ayat Alquran, hendaknya tidak hanya mengandalkan terjemahan, tetapi juga melalui penjelasan ulama dalam kitab-kitab tafsir dan lainnya," tutupnya.(rol/tic/yah/lan)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




