Hj. Munjidah Wahab di acara Jumat Bahagia di SMAN 1 Jombang.
“Di samping pendiri NU, beliau-beliau memberi komando kepada para santri untuk berjuang merebut kemerdekaan dari Belanda,” ujarnya. Puncaknya adalah pada peristiwa resolusi jihad fi sabillah pada tanggal 22 Oktober 1945 silam. “Tanggal inilah yang sekarang diperingati sebagai hari santri nasional (HSN),” ujarnya.
Agar ke depan lahir santri yang cerdas, berkualitas dan ber-akhlaqulkarimah, Hj. Munjidah memotivasi peserta untuk giat belajar. “Juga bergaul cari teman yang baik, jangan sampai ikut-ikutan pergaulan negatif, apalagi sampai terlibat penyalahgunaan narkoba, karena itu dilarang oleh agama dan negara,” ujar putrid pendiri NU KH. Wahab Hasbullah ini.
Sedangkan KH. Nur Habibillah lebih banyak membahas parahnya pergaulan remaja saat ini. Dia mendorong siswa memahami pentingnya menjaga hubungan yang sehat, tidak terjebak kepada pergaulan bebas. “Terutama dalam memilih teman di masa sekarang, bisa-bisa terjerumus kepada pergaulan yang rusak,” ujarnya.
Pada kesempatan ini kiai berbadan gemuk tersebut juga mengajak peserta untuk mengucapkan ikrar santri. Isinya adalah tidak akan melakukan hubungan layaknya suami istri sebelum pernikahan. “Karena itu sangat dilaknat dalam ajaran Islam,” imbuhnya.
Ditemui usai acara, ketua PC IPPNU Jombang Qurrotul Aini menjelaskan bahwa kegiatan Jumat Bahagia digelar tiap Jumat pagi di sekolah-sekolah seluruh Jombang. “Tempatnya bergiliran dan berpindah-pindah dari satu sekolah ke sekolah lainnya,” ujarnya.
Perempuan bertubuh mungil ini mengaku bahwa tujuan kegiatan Jumat Bahagia adalah untuk menanamkan nilai-nilai bathiniyah, tidak cuma dzahiriyah. “Caranya dengan pembacaan shalawat Nabi dan istighatsah ini,” pungkasnya. (rom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




