Rabu, 24 Juli 2019 08:22

Tradisi Petik Laut di Muncar Banyuwangi, Terjaga Selama 115 Tahun

Minggu, 16 Oktober 2016 22:23 WIB
Tradisi Petik Laut di Muncar Banyuwangi, Terjaga Selama 115 Tahun
Kapal saat berangkat melarung sesaji dipetik laut di Selat Sembulung.

BANYUWANGI, BANGSAONLINE.com - Tradisi petik laut yang diselenggarakan setiap tanggal 15 Suro dalam tahun Jawa, merupakan tradisi masyarakat Muncar, Banyuwangi yang sudah dijalani selama 115 tahun. Tradisi itu Minggu (16/10) dilaksanakan dengan meriah.

Petik laut merupakan tradisi tolak balak sekaligus ungkapan syukur atas hasil yang dicapai selama ini. Pelabuhan Muncar merupakan pelabuhan terbesar yang ada di Banyuwangi.

Wakil Bupati Banyuwangi Yusuf Widyatmoko saat membuka pesta tradisi masyarakat pesisir ini mengatakan, Pemkab konsisten mengangkat kearifan budaya lokal yang telah ada di tengah masyarakat. Salah satunya dengan mengemas tradisi tersebut menjadi bagian dalam agenda wisata tahunan Banyuwangi Festival.

“Ini bentuk intervensi Pemda untuk mengenalkan budaya asli Banyuwangi kepada masyarakat global dengan membranding tradisi ini dalam kemasan festival. Kita berharap tradisi ini akan terus hidup dan menjadi daya tarik yang mampu menggerakan kunjungan wisatawan ke Banyuwangi,” ujar Wakil Bupati.

Ketua penyelenggara Petik Laut Muncar, H. M. Hasan Basri mengatakan, tradisi ini rutin digelar nelayan pesisir Muncar sejak tahun 1901 silam. Tepatnya setiap tanggal 15 Syuro penanggalan Jawa, atau 15 Muharram penanggalan Qomariah yang bertepatan dengan pasangnya air laut.

Dalam arak-arakan, tandas Hasan, iring-iringan kapal berhenti di lokasi laut yang berair tenang dekat semenanjung Sembulungan yang disebut warga pesisir Muncar dengan plawangan. Di lokasi inilah ritual utama dilakukan, sesaji dilarung ke laut di bawah pimpinan seorang sesepuh nelayan.

Teriakan syukur masyarakat pesisir sontak menggema saat sesaji jatuh dan tenggelam di telan ombak. Para nelayan bergegas menceburkan diri ke laut berebut mendapatkan sesaji. Sesekali mereka juga terlihat menyiramkan air yang di lewati sesaji ke seluruh badan perahu.

"Kami percaya air ini menjadi pembersih malapetaka dan diberkati ketika melaut nanti," kata salah satu nelayan. (bwi1/rev)

Kamis, 11 Juli 2019 16:29 WIB
YOGYAKARTA, BANGSAONLINE.com - Siapa pun pasti tersenyum membaca nama tempat wisata ini. Maklum, identik alat vital wanita: “Tempik Gundul” yang artinya alat vital wanita tanpa bulu. Apalagi tulisan yang beredar di media sosial (medsos) juga d...
Minggu, 14 Juli 2019 13:13 WIB
Oleh: Dr. KH. M. Cholil NafisBaru saja, Kamis (12/7) saya berpartisipasi dalam kegiatan Bussiness Matching The 1st Pasific Exposition yang berlangsung pada 11 s.d. 14 Juli 2019 di Auckland, Selandia Baru.Pacific Exposition merupakan salah satu kontri...
Kamis, 18 Juli 2019 13:54 WIB
Oleh: Dr. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag57. Ulaa-ika alladziina yad’uuna yabtaghuuna ilaa rabbihimu alwasiilata ayyuhum aqrabu wayarjuuna rahmatahu wayakhaafuuna ‘adzaabahu inna ‘adzaaba rabbika kaana mahtsuuraanOrang-orang yang mereka seru itu, ...
Sabtu, 29 Juni 2019 14:36 WIB
>>>>> Rubrik ini menjawab pertanyaan soal Islam dalam kehidupan sehari-hari dengan pembimbing Dr. KH. Imam Ghazali Said. SMS ke 081357919060, atau email ke bangsa2000@yahoo.com. Jangan lupa sertakan nama dan alamat. <<<<<...