Proses pembuatan lontong. foto: mega melati/ BANGSAONLINE
Penghasilan bersih Peleh dalam sehari sekitar Rp. 1 juta. Sedangkan kalau pesanan banyak atau hari-hari besar bisa mencapai Rp. 2 juta lebih. Itu hanya untuk hasil penjualan daun pisang Kluthuk. Sedangkan untuk lontongnya, dalam sehari Peleh bisa membuat dan menjual sekitar 1500-2000 lontong. Menghabiskan 75 kg beras. Beras yang digunakan adalah beras Piring dioplos dengan beras Bulog.
“Kalau Cuma pakai beras Piring saja, hasil lontongnya terlalu empuk dan cepat berarir. Sedangkan kalau Cuma pakai Beras Bulog, lontongnya terlalu keras. Biasanya perbandingan 2 : 1. 2 untuk Bulog, 1 untuk Beras Piring,” jelas Ayu.
Lontong Peleh dijual dengan harga 1000/bungkus. Peleh menjual lontong bersama istrinya di tempat yang berbeda. Peleh menjual lontong di Pasar Genteng Kali, sedangkan ibunya di Pasar Banyu Urip. Untuk penghasilan bersih lontongnya sekitar Rp. 1,2 juta dalam sehari. Sedangkan di hari-hari besar bisa mencapai 2x lipat bahkan lebih.
Menurut penuturan Ayu, ada juga pengepul dari luar kota seperti dari Bojonegoro, Malang, Jember. Orang-orang baru yang merintis sebagai pembuat lontong biasanya mengambil atau langganan dari pengepul luar kota tersebut. Sedangkan orang-orang yang lama mengambil atau langganan di Peleh.
Begitu pun Tuti (56) salah satu pelanggan Peleh. Tuti sudah 2 tahun menjadi pembuat slontongan lontong. Dia mengaku mengambil daun pisang kluthuk dan menjadi langganan Peleh. “Saya pesan dulu, setelah itu diantar. Kalau tidak pesan ya kehabisan,” aku Tuti.
Untuk bitingnya, para pembuat lontong di Kampung Lontong biasanya pesan ke pengepul juga. Kalau Ayu dan keluarganya langganan membeli di Pasar Banyu Urip tempat ibunya berjualan lontong. Sekali beli biting itu 1 sak/karung. 1 karung biting habis dalam waktu seminggu. (mega melati/UTM).
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




