Presiden Prabowo Subianto saat berbincang-bincang dengan presiden ke-7 RI Joko Widodo (dok BPMI Setpres)
JAKARTA,BANGSAONLINE.com - Presiden Prabowo Subianto menanggapi kritik yang ditujukan kepadanya terkait intensitas kunjungan ke luar negeri.
Prabowo menilai apa pun yang dilakukan presiden kerap menjadi bahan sorotan, termasuk urusan frekuensi lawatan internasional.
BACA JUGA:
- Biaya Pribadi Presiden saat Kunjungan LN Wajib Diaudit BPK, Prof Ikrar Kritik Komunikasi Prabowo
- YRJI Dukung Langkah Presiden Prabowo Wujudkan Amanat Pasal 33 UUD 1945
- Belanja Subsidi dan Kompensasi Capai 45,6 Persen APBN
- Dianggap Remehkan Dino Patti Djalal, Teddy "Dikeroyok" Ribuan Netizen, Ditanya Apa Kompetensinya
Hal itu disampaikan Prabowo saat membuka Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia di Bandar Lampung, Rabu (10/6/2026).
Prabowo membandingkan kondisi yang dialaminya saat ini dengan kritik yang pernah diterima Presiden ke-7 RI Joko Widodo. Menurutnya, ketika menjabat, Jokowi justru kerap dikritik karena dinilai terlalu jarang melakukan kunjungan ke luar negeri.
"Jadi, ada presiden kayak Pak Jokowi yang jarang ke luar negeri, disalahkan ya kan ‘Jokowi nggak pernah ke luar negeri. Jokowi tidak peduli politik luar negeri’," kata Prabowo.
Kini, menurut Prabowo, kritik yang muncul justru berbalik arah. Ia mengaku kerap disorot karena dinilai terlalu sering melakukan kunjungan ke berbagai negara.
"Saya sering ke luar negeri, ‘Prabowo sering ke luar negeri’. Aneh… Sebenernya tidak ada masalah gitu, bener nggak," kata Prabowo.
Ia menjelaskan, intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukan saat ini tidak terlepas dari dinamika geopolitik global yang semakin kompleks dan sulit diprediksi.
"Situasi mungkin berubah, sekarang dinamikanya geopolitik begitu kacau. Kita tidak tahu kawan siapa, lawan siapa," kata Prabowo.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




