KH Afifuddin Muhajir (kanan) dan KH Said Aqil Siradj (kiri)
Pernyataan Kiai Hasyim Muzadi itu didukung KH Salahuddin Wahid (Gus Solah), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang Jatim. Mantan ketua PBNU dua periode itu berharap DPP PDIP mempertimbangkan saran KH Hasyim Muzadi supaya partai yang dipimpin Megawati Soekarnoputri itu mencalonkan kader sendiri dalam pemilihan Gubernur DKI.
Gus Solah tak mendukung Ahok bukan karena faktor agama dan etnis. Tapi karena Ahok dzalim pada orang miskin dan etikanya payah. “Ahok memang banyak punya prestasi tapi banyak juga sisi negatifnya,” tegas cucu pendiri NU Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari itu.
Menurut Gus Solah, etnis Cina dan non-muslim pun juga banyak yang tak mendukung Ahok. Di antaranya Hary Tanoesoedibyo, Lius dan sebagainya.
Gus Solah juga menyatakan bahwa kini warga Jakarta banyak yang berubah pilihan.Yang dulu dukung Ahok kini cari alternatif lain. Ia menyebut contoh adiknya sendiri, dr Umar Wahid (mantan dokter pribadi Presiden RI ke-4 KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang dulu mendukung Ahok). “Umar dulu mendukung Ahok. Sekarang dia nunggu calon lain. Kalau bagus dia pilih. Kalau tidak, dia golput,” kata Gus Solah.
Kiai Afifuddin Muhajir mengatakan bahwa kini umat Islam menghadapi banyak baik dari eksternal maupun internal sendiri.
Dari pihak internal, kata Kiai Afifuddin, adalah tidak bersatunya umat Islam. Bahkan di antara umat Islam ada yang termakan jargon Kiai Said Aqil Siradj yang lebih membela non-Islam ketimbang pemimpin Islam.
Padahal bagi umat Islam, kata Kiai Afifuddn, agama (Islam) adalah segalanya. ”Maka tidak heran jika mereka bersedia mengorbankan segalanya demi agamanya (Islam). Dan masuk akal kalau umat Islam memilih pemimpin Islam, tentu yang adil,” kata Kiai Afifuddin. (tim)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




