Kiai Imjaz: Kiai Said Aqil Paling Penuhi Syarat sebagai Rais Aam PBNU

Kiai Imjaz: Kiai Said Aqil Paling  Penuhi Syarat sebagai Rais Aam PBNU KH Imam Jazuli bersama kelurga foto dengan KH Said Aqil Siradj di kediamannya Pondok Bina Insan Mulia Cirebon Jawa Barat. Foto: dok. keluarga

CIREBON, BANGSAONLINE.com – KH Imam Jazuli, Lc, MA, yang akrab dipanggil Imjaz menilai bahwa KH Said Aqil Siradj paling memenuhi kriteria sebagai Rais Aam Syuriah PBNU.

Pengasuh Pondok Bina Insan Mulia Cirebon Jawa Barat itu menjelaskan, terdapat empat kriteria yang harus dimiliki Rais Aam PBNU. Yaitu alim, faqih, zahid, berpengalaman dalam organisasi, serta diperkuat dengan nilai tambahan sebagaimana kiteria kiai sepuh lainnya; punya martabat (muru’ah), futuwwah (wibawa), sekaligus sebagai pengendali dan jangkar gerakan (muharrikan).

“Jika kriteria itu diterapkan secara objektif, maka Kiai Said Aqil Siradj muncul sebagai figur yang paling lengkap dan paripurna,” ujar Kiai Imjaz, Sabtu (24/1/2026).

Menurut dia, pemilihan Rais Aam harus berangkat dari kriteria yang tegas sebagaimana diatur dalam Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) NU melalui mekanisme Ahlul Halli wal Aqdi (Ahwa), bukan semata pertimbangan popularitas figur.

Ia mengatakan, dalam kepengurusan NU, Syuriyah adalah lembaga tertinggi yang memegang kendali organisasi para ulama ini seutuhnya. Syuriyah PBNU dipimpin seorang Rais Aam yang biasanya dipilih berdasarkan kriteria yang ketat.

“Dalam struktur NU, Rais Aam bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah simbol marwah, pemimpin spiritual, dan pengambil kebijakan strategis jam’iyah. Karena itu, yang paling penting bukan siapa orangnya, tetapi apakah ia memenuhi kriteria,” ujarnya.

Kiai Imjaz juga mengatakan, dari sisi keilmuan, Kiai Said Aqil disebut sebagai ulama alim dan faqih dengan latar belakang pendidikan dari Universitas Ummul Qura, Mekkah. Kiai Said Aqil, tegas Kiai Imjaz, jua menguasai secara mendalam terhadap khazanah keilmuan Islam klasik (turats) dan pemikiran kontemporer.

“Pemikiran beliau mencerminkan Islam wasathiyah. Teguh pada tradisi pesantren, tetapi mampu merespons modernitas tanpa kehilangan jati diri NU. Sehingga, kefaqihan Kiai Said Aqil bersifat solutif dan kontekstual, sehingga mampu memberikan jawaban atas persoalan umat di era perubahan sosial yang cepat,” urainya panjang lebar.

Kiai Imjaz juga menyoroti Said Aqil dari aspek spiritualitas. Menurut dia, Said Aqil memiliki karakter zahid, yakni tidak terikat ambisi duniawi meskipun memiliki kapasitas dan akses kekuasaan.

“Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia, tetapi menempatkan dunia sebagai sarana ibadah. Jabatan bagi Kiai Said adalah amanah dan khidmah, bukan tujuan,” jelasnya.

Menurut dia, pengalaman panjang Kiai Said Aqil sebagai Ketua Umum PBNU selama dua periode (2010–2021) juga menjadi poin penting. Menurut Kiai Imjaz, pengalaman itu membuatnya memahami NU secara utuh, baik dalam aspek struktural, ideologis, maupun kultural.

“Beliau bukan hanya paham AD/ART, tetapi juga pelaku sejarah modernisasi NU. Ia tahu bagaimana mengelola jam’iyah sebesar NU tanpa keluar dari khittah 1926. Di bawah kepemimpinannya, gagasan kemandirian NU melalui penguatan pendidikan tinggi, rumah sakit, dan jejaring internasional dinilai sebagai visi strategis jangka panjang,” ujarnya.

Ia juga memuji Said Aqil sebagai penggerak sejati organisasi yang mampu membawa Islam moderat NU ke tingkat global. Menurut dia, sikapnya yang konsisten menjaga NKRI dan melawan ekstremisme dinilai sebagai bentuk ketegasan dan kedisiplinan seorang Rais Aam.

“NU ke depan membutuhkan Rais Aam yang berani bersikap tegas, meskipun pahit, demi keselamatan jam’iyah dan jamaah. Kiai Said memiliki keberanian moral itu,” kata Kiai Imjaz.

Masih menurut Kiai Imjaz, Muktamar ke-35 NU membutuhkan sosok Rais Aam yang tidak lagi berada pada tahap belajar, tetapi telah matang secara keilmuan, pengalaman, dan visi kepemimpinan.

“Dengan rekam jejak nasional dan internasional, Kiai Said Aqil Siradj adalah standar emas Rais Aam PBNU. Menempatkannya sebagai Rais Aam merupakan langkah strategis agar NU tetap menjadi jangkar stabilitas nasional dan kompas moral umat,” ujar Kiai Imjaz.