KHA Hasyim Muadi dan KH Said Aqil Siroj
Ia menegaskan, ICIS pernah membela Iran dalam hak proyek nuklirnya ke dunia internasional dan pandangan ICIS ini didukung pemerintah Indonesia. ICIS juga menyokong gerakan perlawanan terhadap Israel di perbatasan Lebanon Selatan yang dipimpin oleh Hasan Nashrullah.
Hasil dukungan terhadap proyek nuklir Iran, sekarang embargo dari Barat sudah dicabut. Sedangkan sokongan ICIS terhadap perjuangan perlawanan terhadap Israel yaitu bersama sama dengan kontingen pasukan garuda yang berjaga-jaga di perbatasan Lebanon Selatan.
”Saya sendiri (A. Hasyim Muzadi) sampai saat ini masih menjadi pengurus Rabithah ‘Alam Islami yang berpusat di Mekkah. Sedangkan saya juga melakukan konsolidasi gerakan moderat Islam (Sunni) di kawasan ASEAN misalnya: Thailand, Malaysia dan Brunei Darussalam,” kata Kiai Hasyim.
(Baca: Genap 4 tahun, Syech Ali Akbar Minta MoU PBNU-Universitas di Kota Syiah Iran Dicabut)
Menurut dia, Malaysia dan Brunei Darussalam termasuk negara yang melarang pengembangan paham syiah, karena menurut negara tersebut kalau Syiah menjadi besar dan sebanding besarnya dengan Ahlussunnah wal jamaah bisa terjadi konflik terbuka di kalangan masyarakat, seperti juga yang terjadi pertikaian di Timur Tengah. ”Hal tersebut yang dilakukan oleh Malayasia dan Brunei Darussalam sama dengan yang dilakukan oleh Sudan dan beberapa Negara Timur Tengah,” katanya.
Ia mengaku tidak pernah bersedia dan menyutujui ajakan Syiah untuk bekerjasama dengan Indonesia dalam bidang pendidikan dan haji, karena hal tersebut akan menjadikan kegoncangan umat Islam sunni di Indonesia.
Dengan demikian, tegas dia, gerakan internasional ICIS adalah gerakan diplomasi, bukan gerakan pemihakan ideologi dari negara-negara peserta. ”Sehingga kalau saya ke Saudi bukan berarti saya ini Wahabi, kalau saya ke China bukan berarti saya setuju neo komunisme, kalau saya ke Eropa barat dan Eropa Timur bukan berarti saya menyetujui Neo Liberalisme, begitu juga kalau saya ke Iran bukan saya setuju dengan Syiah. Karena tentu saya tidak mungkin menyalahkan atau mencaci maki sahabat Nabi,” katanya.
Menurut Kiai Hasyim, yang diperjuangkan ICIS di Indonesia dan internasional adalah Islam Rahmatan Lil Alamin dan pengenalan Pancasila sebagi alternatif ideologi negara yang penduduknya plural (tidak satu agama) agar tidak terjerumus menjadi negara sekuler. Embrio dari Islam Rahmatan Lil Alamin adalah Ahlussunnah wal jama’ah Annahdliyah.
Kiai Hasyim menegaskan bahwa saat terjadi pertikaian antara Saudi dan Iran pasti akan mengakibatkan kegoncangan dunia Islam termasuk Indonesia, karena baik Saudi maupun Iran mempunya underbow kelompok dan negara negara yang sangat mungkin ikut bertikai akibat pertikaian Saudi dan Iran tersebut. ”Oleh karenanya Indonesia harus berjaga-jaga jangan sampai kawasan negeri ini menjadi ring atau ajang pertempuran diantara mereka tetapi menggunakan warga negara indonesia. Semoga Allah SWT melindungi Nahdlatul Ulama dan bangsa Indonesia,” katanya. (tim)
(Baca: PCNU Nganjuk: Draft Perampingan Struktur Pengurus NU Pimpinan Said Aqil Mirip Syiah Imamiyah)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




