Basuki Tjahaja Purnama (Ahok). Foto: tempo.co
Mantan Bupati Belitung Timur itu bahkan pernah berniat belajar mengaji dan membaca Alquran di sebuah masjid di kampung halamannya. Hanya saja ditolak oleh pengurus masjid. Bahkan oleh beberapa sahabat yang juga ulama sering berkelakar jika jiwa Ahok sudah Islam hanya saja belum mendapat hidayah.
Sebagai non-muslim, suami Veronica Tan itu tidak canggung atau takut menggunakan ajaran nabi dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan tidak jarang dalam sambutannya kepada para PNS, suri tauladan ini disampaikan pula kepada bawahannya.
Rupanya, ketegasan untuk tidak menerima suap didapat dari ajaran Nabi Sulaiman. Dia ingat, Nabi Sulaiman pernah mengajarkan seorang pejabat tidak boleh menerima suap bila ingin membangun bangsa dengan baik.
"Nabi Sulaiman mengajarkan, negara akan runtuh kalau pejabatnya menerima suap. Anda kalau sampai menyuap, berarti Anda bodohya minta ampun. Lebih baik tidak jadi gubernur daripada nyuap hakim," ucap Ahok pada sambutan penetapan CPNS bagi pegawai honorer di Blok G Balaikota, Jakarta, Selasa 25 Agustus 2015.
"Karena saya ingin membangun bangsa ini," sambung dia.
Ayah 3 anak itu akhirnya memulai pembangunan masjid di Balaikota. Pembangunan masjid ini merupakan bagian dari renovasi gedung Blok D Balaikota dengan biaya Rp 18.838.138.000.
Hal serupa juga pernah diajarkan oleh Nabi Sulaiman. 'Saya dapat bahasa ini dari Nabi Sulaiman. Saat itu dia berdoa kepada Tuhan begini, 'Berikan saya hikmat dan bijaksana sehingga bisa mengadministrasi keadilan sosial'," kata Ahok.
Sejak masuk ke Jakarta bersama Jokowi, dia ingin menghapus stigma, sulit mencari pemimpin yang jujur dan berintegritas tinggi. Kebanyakan pejabat asyik dengan posisinya dan menyalahgunakan jabatan untuk kepentingan pribadi.
Berbagai cara dilakukan Ahok agar pandangan itu perlahan hilang dibenak masyarakat dan PNS.
Ahok pun memiliki tauladan sendiri untuk urusan memimpin. Mantan anggota Komisi II DPR itu memilih Baginda Rasulullah Muhammad yang jadi contoh baginya dalam memimpin Jakarta.
Menurut dia, sifat siddiq, amanah, tabligh, fathanah yang diajarkan pada saat belajar di sekolah Islam itu sangat tepat untuk diwujudkan setiap pemimpin.
"Pemimpin buktikan itu saja, orang akan lihat kamu. Lihat saja lebih banyak manfaat atau mudaratnya buat masyarakat. Kalau manfaat jalan terus walau pun harus mengorbankan jabatan saya," ujar Ahok.
"Seperti Nabi kan, Nabi memang sudah selesai di Nabi Muhammad, tapi fungsinya harus dijalankan pemimpin, melakukan kebenaran sekalipun kita korbannya," tutur Ahok di Balaikota, Jakarta, Senin 21 Desember 2015.
Momen Maulid Nabi Muhammad dan Natal 2015 yang hanya berselang sehari dinilai menjadi waktu penting untuk menumbuhkan lagi rasa toleransi antarumat beragama. Bagi mereka yang tempat ibadahnya berdekatan bisa menggunakan momen ini untuk menunjukkan rasa peduli dan saling mengerti satu sama lain.
Hal ini begitu disadari Ahok. Usai kunjungannya ke 4 gereja di malam Misa Natal yang juga bertepatan dengan Hari Maulid, Ahok ingat dengan pelajaran sejarah Islam yang didapatnya semasa sekolah dulu.
Selama belajar, tak ada satu pun perkataan Nabi Muhammad yang menjelek-jelekan Nabi Isa. Ini tentu berbanding terbalik dengan kondisi saat ini.
"Aku belum pernah baca Nabi Muhammad jelek-jelekin Nabi Isa. Bahkan di hari meninggal pun masih menyebut sahabat Nabi Isa. Kenapa pengikut kedua umat ini bisa bermusuhan?" ujar Ahok usai meninjau Gereja Immanuel, Jakarta Pusat pada Kamis 24 Desember 2015.
"Kamu cari coba di Alquran, kan ada beda 500 tahun antara Nabi Isa dengan Muhammad. Saya sekolah Islam, enggak pernah baca Muhammad menjelek-jelekan Nabi Isa. Jadi bagaimana bisa dua umat yang besar ini sekarang musuhan? Pasti ada salah tafsir," pungkas Ahok. (ma)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




