Foto: MCH 2026
MADINAH, BANGSAONLINE.com - Sejumlah jemaah haji penyandang disabilitas melakukan audiensi resmi dengan Menteri Haji dan Umrah, Mochamad Irfan Yusuf, di Kantor Daerah Kerja (Daker) Madinah, Arab Saudi, Selasa (2/6/2026). Pertemuan tersebut didampingi Wakil Ketua Komisi Nasional Disabilitas (KND), Deka Kurniawan.
Jemaah haji yang hadir mewakili ragam disabilitas fisik, netra, dan autis berasal dari Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Ikatan Tuna Netra Muslim Indonesia (ITMI), serta seorang orang tua dari penyandang autis dewasa.
BACA JUGA:
- Istri Wafat Saat Bertugas Haji, Wamenhaj Datangi Keluarga Muhaimin di Kota Malang
- Lebih dari 73 Ribu Jemaah Haji Indonesia Telah Dipulangkan, Kemenhaj Ingatkan Soal Zamzam
- Sehari 8.000 Jemaah Masuk Raudhah, Haji Indonesia Gelombang II Mulai Padati Nabawi
- Berantas Praktik Non-Prosedural, Kemenhaj Tertibkan KBIHU Nakal
“Keterlibatan mereka dalam audiensi ini merupakan bentuk penerapan prinsip HAM, Nothing About Us Without Us. Merekalah yang paling mengerti tentang dunia disabilitas, jadi jangan sampai mereka tidak dilibatkan dalam penyelenggaraan Haji Inklusif,” kata Deka.
Audiensi ini bertujuan mengapresiasi penyelenggaraan Haji 2026 yang mengusung tagline Haji Inklusif sekaligus menyampaikan aspirasi untuk pelaksanaan Haji 2027. Deka menekankan komitmen Kemenhaj terhadap pelayanan inklusif bagi lansia, disabilitas, dan perempuan sebagai mandat hukum nasional maupun internasional.
Ketua PPDI, Siswadi, menyoroti pentingnya fasilitas yang lebih aksesibel, mulai dari akomodasi hotel, transportasi bus ramah disabilitas, hingga sarana di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Ia juga meminta kurikulum sensitivitas disabilitas dimasukkan dalam diklat petugas haji dan manasik.
“Regulasi dan keberpihakan Pak Menteri sudah kepada disabilitas dan lansia, tetapi kadang-kadang di lapangan belum ada kesadaran,” ujarnya.
Klik Berita Selanjutnya
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




