Ilustrasi. Foto: Pixabay
BANGSAONLINE.com - PBB memperingatkan dunia untuk bersiap menghadapi kembalinya fenomena El Nino yang berpotensi memicu cuaca ekstrem di berbagai wilayah.
Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menyebut peluang terbentuknya El Nino mencapai 80 persen sebelum September 2026 dan meningkat menjadi 90 persen sebelum November.
BACA JUGA:
- PBB Peringatkan Rekor Suhu Terpanas Dunia Sebelum 2030
- BMKG: El Nino Lemah-Moderate Berpotensi Picu Kekeringan pada 2026
- KTT Iklim PBB di Brazil Resmi Dibuka, Walhi: Pemerintah Justru Beri Peluang Industri Ekstraktif
- Komisi II DPRD Kabupaten Malang Dorong Optimalisasi Pembayaran PBB untuk Pembangunan Desa
Melansir The Guardian pada hari ini, Rabu (3/6/2026), sebagian besar model cuaca memprediksi El Nino mendatang akan memiliki kekuatan moderat, sementara beberapa model menunjukkan kemungkinan lebih kuat.
Meski sejumlah ilmuwan memperingatkan potensi El Nino terkuat abad ini, WMO menegaskan masih ada ketidakpastian dalam proyeksi.
Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo, mengatakan hasil model cuaca masih menunjukkan perbedaan signifikan. Ia mengatakan, “Sebagian model tidak menunjukkan tanda-tanda El Nino yang kuat, sementara model lainnya justru mengarah pada kemungkinan tersebut.”
Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, menyebut El Nino sebagai peringatan iklim yang harus ditanggapi serius. Ia menilai fenomena ini akan memperburuk dampak pemanasan global dan memperluas jangkauan cuaca ekstrem ke berbagai negara.
El Nino terakhir pada 2023-2024 termasuk salah satu dari lima peristiwa terkuat yang pernah tercatat, turut berkontribusi terhadap rekor suhu global 2024 yang menjadi salah satu tahun terpanas dalam sejarah.
WMO memperkirakan suhu di hampir seluruh wilayah dunia akan berada di atas rata-rata selama tiga bulan ke depan, dengan risiko hujan ekstrem dan kekeringan di berbagai kawasan.
Fenomena ini dikaitkan dengan curah hujan lebih tinggi di sebagian Amerika Selatan, selatan Amerika Serikat, Tanduk Afrika, dan Asia Tengah. Sebaliknya, kondisi lebih kering biasanya terjadi di Amerika Tengah, Karibia, Australia, Indonesia, serta beberapa bagian Asia Selatan.
Suhu permukaan laut yang lebih hangat juga dapat meningkatkan aktivitas badai tropis di Pasifik tengah dan timur, namun cenderung menghambat pembentukan badai di Atlantik.
WMO dan UK Met Office memperkirakan dunia hampir pasti mencatat tahun terpanas baru sebelum akhir dekade ini. Para ahli mengingatkan fenomena ini dapat memperburuk tekanan terhadap pasokan pangan global.
PBB menekankan pentingnya memperkuat sistem peringatan dini, mempercepat transisi energi terbarukan, serta meningkatkan aksi iklim global untuk mengurangi dampak El Nino di masa mendatang. (rom)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




