Dr. KH. A. Musta'in Syafi'i.
“fa ilahukum ilah wahid...”. Tuhan kalian itu cuma satu dan itu satu-satunya. Dan konsep satu Tuhan itu lebih pas untuk dijadikan sebagai tempat bersandar segala urusan. Sudah jelas dan karuan. Satu penanganan dan satu layanan, total dan tuntas. Tidak ribet dan tidak membingungkan. Semua urusan bisa beres dan diselesaikan dalam satu mahaloket, tanpa ngantre dan tanpa tundaan. “... wa halu aslimu...”.
Konsep Tuhan lebih dari satu personal, satu dalam tiga dan tiga dalam satu sungguh mbulet dan hingga kini tidak satu pun ahli logika, pemikir sehat membenarkan. Bahkan di dalam agama itu sendiri terjadi tiga perbedaan pemahaman besar: ada Trinitas, ada Unitarian, dan ada Oneness. Silakan mendalami.
Belum lagi dogma bahwa Yesus sebagai berjasad manusia, berdaging, dan bertulang, butuh makan dan butuh minum dan pada saat yang bersamaan berperang sebagai Tuhan yang mesti disembah. Lalu dikarang-karang dan dipaksakan saat dipertanyakan bagaimana itu bisa terjadi. “kok Tuhan lahir belakangan? Kok Tuhan punya kakek? Kok, dan kok, kok, yang lain.
Teori nuqtah al-wujud yang diblow up oleh ilmuwan muslim tempo dulu adalah logika kuno yang mudah dipahami. Nuqthah adalah “titik”. Titik adalah awal terbentuknya angka atau lukisan atau gambar. Anda menggambar dan menulis apa saja, pasti diawali dari titik, via ujung pena anda.
Sama dengan angka satu sebagai awal dari segala angka dan jumlah. Sekian ratus, sekian ribu, sekian juta, sekian miliar, dan seterusnya, pasti berawal dari satu. Itulah al-Ahad dan itulah al-Wahid. Itulah sang Maha Tunggal, Sang Maha Esa, sumber dari segala sumber.
Jika dipertanyakan, lalu Allah itu dari mana? Maka cukup ahli matematika dan logika yang menjawab, bahwa itu pertanyaan yang tak berujung dan menyalahi logika scientific. Sama dengan pertanyan mana duluan: ayam atau telor?
Jika merujuk penciptaan Adam A.S., di mana fisik nabi Adam dicipta dulu dan di dalamnya dilengkapi air mani. Adam itu namanya “ashalah”, (pokok, dasar) dan air mani atau sperma itu “far’” (cabang, produk). Ayam itu ashalah yang dicipta duluan, baru telor yang disebut far’, sebagai produk.
Jika tidak pakai teori nuqthah atau Ahad atau ashalah macam ini, maka bahasan tersebut di atas mbulet terus-menerus tanpa penyelesaian. Dan itu mustahil. Kalangan teologis menyebut: “.. saat itu.. akal kita terjebak dalam pola pikir “dawr” atau “tasalsul”. Kitab teologis “al-Hushum al-Hamidiyah”, tulisan al-Sayyid Husain Afandy membahas ini dengan ragaan gambar segitiga sederhana.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




