PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Masuk AHWA

PWNU dan 23 PCNU se-Jawa Barat Dukung Kiai Asep Masuk AHWA Para rais dan ketua PWNU dan 23 PCNU foto bersama dengan Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim di Karangampel Indramayu, Sabtu (9/5/2026). foto: MMA/bangsaonline.com

INDRAMAYU, BANGSAONLINE.com – Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah Surabaya dan Pacet Mojokerto Jawa Timur menggelar silaturahim dengan dan 23 di kediamannya di Kangampel Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Sabtu (9/5/2026).

Pantauan BANGSAONLINE di lokasi, dalam acara itu hadir Ketua Tanfidziyah KH Juhadi Muhammad dan sejumlah wakil Rais Syuriah dan Wakil Ketua Tanfidziyah serta Wakil Sekretaris .

”Rais Syuriah Dr. KH Abun Bunyamin berhalangan karena ada acara yang tak bisa ditinggalkan. Beliau menyampaikan salam kepada kita semua: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” ujar Kiai Juhadi Muhamad saat menyampaikan pidato muqaddimah atau ucapan selamat datang kepada 23 PCNU dari seluruh Jawa Barat yang hadir.

Acara itu dibuka oleh Wakil Syuriah KH Busrol Karim dan dimoderatori oleh Dindin C Nurdin, Wakil Sekretaris PWNU Jawa Barat. Tampak hadir sejumlah pengurus yang lain, baik jajaran Syuriah maupun Tanfdizyah.

Acara yang belangsung sekitar 3 jam lebih itu dihadiri 23 PCNU seluruh Jawa Barat yang terdiri dari Rais Syuriah dan Ketua Tanfidziyah. Ini berarti hanya tersisa 4 PCNU dari jumlah total 27 Kota dan Kabupaten se-Jawa Barat.

Berdasarkan daftar hadir dan tanda tangan peserta, empat PCNU yang tak hadir itu adalah PCNU Garut, Depok, Karawang dan Purwakarta.

Tapi menurut Dr Saepulloh, Ketua PW Pergunu Jawa Barat, PCNU Garut berniat hadir tapi berhalangan. "Garut sudah ada komitmen tapi kebetulan ada halangan," ujar Saepulloh kepada BANGSAONLINE di lokasi acara.

Suasana silaturahim Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim, MA, dengan dan 23 di kediamannya di Kangampel Kabupaten Indramayu Jawa Barat, Sabtu (9/5/2026). Foto: MMA/bangsaonline.com

Dalam sambutannya, mengatakan b mekanisme pemilihan Rais Aam, menurut Keputusan Muktamar ke-33 NU di Jombang, melalui Ahlul Halli Wal Aqdi atau Ahwa. Sedangkan pemilihan ketua umum PBNU melalui proses voting atau one man one vote peserta atau muktamirin

Kiai Juhadi juga menegaskan b banyak tokoh sentral dari Jawa Barat yang layak menjadi pengurus PBNU. Terutama masuk Ahwa.

“Oleh karena itu kita yang ada di Jawa Barat menyiapkan tokoh-tokoh sentral Jawa Barat. Kita dorong untuk masuk Ahwa,” ujar Kiai Juhadi Muhammad di depan 23 PCNU yang hadir.

Secara blak-blakan Kiai Juhadi menyebut nama KH Said Aqil Siroj dan Kiai Asep Saifuddin Chalim yang harus didorong masuk Ahwa.

Selain Kiai Asep dan Kiai Said Aqil, kata Kiai Juhadi, KH Muhammad Nuh Addawami (Mustasyar ) dan KH Abun Bunyamin juga layak masuk Ahwa.

Menurut Kiai Juhadi, Kiai Asep adalah putra KH Abdul Chalim, salah seorang ulama pendiri NU asal Jawa Barat.

“Alhamdulillah, beliau (Kiai Asep) ini luar biasa kiprahnya, baik dalam bidang pendidikan maupun dalam ekonomi umat. Ini ada bukunya, Kiai Miliarder Tapi Dermawan. Luar biasa,” ujar Kiai Juhadi.

Buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan ditulis M. Mas’ud Adnan, CEO HARIAN BANGSA dan BANGSAONLINE.com. Buku yang sudah mengalami cetak ulang delapan kali itu terbit sejak tahun 2022.

Karena itu mengajak semua PCNU dan – tentu juga PWNU – memasukkan Kiai Asep sebagai anggota Ahwa dalam Muktamar ke-35 NU mendatang. Karena, tegas Kiai Juhadi, kita berharap PBNU lima tahun ke depan tidak terjadi lagi diamika seperti PBNU periode 2021-2025 sekarang ini.

“Sampai hari ini kita menyaksikan sendiri dinamika yang terjadi di PBNU. Belum selesai 100 persen. Karena kalau sudah retak susah dipulihkan kembali 100 persen,” ujarnya.

Respons 23 PCNU luar biasa. Saat dibuka sesi dialog oleh Haji Dien At-Tasiki, panggilan akrab Dindin C Nurdin, mereka langsung mengacungkan tangan. Mereka, antara lain, Ketua PCNU Ciaimis KH Arief Ismail Chowas, Ketua PCNU Kota Bandung KH Ahmad Chaidar, Ketua PCNU Kabupaten Cirebon KH Aziz Hakim Syaerozie dan lainnya.

Mereka sepakat Kiai Asep masuk Ahwa. Alasannya, prestasi dan dedikasi Kiai Asep telah terbukti. Terutama dalam bidang pendidikan.

“Selama ini NU belum sukses mendirikan dan mengelola pendidikan. Tapi Kiai Asep telah sukses mengelola pendidikan,” ujar Ketua PCNU Ciamis KH Arief Ismail Chowas.

Konflik PBNU yang tak kunjung selesai tampaknya telah membuat para kiai -baik di jajaran struktural maupun kultural NU - resah dan gerah. Mereka lalu mencari figur yang sejuk dan punya integritas dalam memimpin PBNU ke depan.

Bagaimana respons Kiai Asep. Ketua Umum Pimpinan Pusat Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) itu mengucapkan terimakasih. Tapi Kiai Asep mengingatkan sabda Rasulullah SAW kepada Abdurrahman bin Samurah. Dalam Hadits yang diriwayatkan Imam Buchori-Muslim itu Nabi Muhammad bersabda yang artinya:

“Janganlah kau meminta jabatan. Jika kau diberikan jabatan karena kau memintanya, kau akan dibebani tanggung jawab berat (dan tidak ditolong oleh Allah). Tetapi jika kau diberi jabatan tidak atas permintaanmu, kau akan dibantu (oleh Allah),” ujar Kiai Asep yang pernah menjadi Ketua PCNU Kota Surabaya.

Dalam acara itu Kiai Asep banyak bercerita tentang sejarah dan tujuan didirikannya NU, disamping kisah mudanya yang miskin tapi tak pernah patah semangat mencari ilmu dan berjuang untuk mendirikan pondok pesantren sekaligus memajukan pendidikan Indonesia, terutama NU.

Bahkan Kiai Asep tiap tahun memberikan 600 beasiswa kepada kader-kader NU seluruh Indonesia lewat Pergunu.

“Kalau empat tahun berarti sekitar 2.400 beasiswa. Mungkin karena itu oleh Pak Mas’ud Adnan saya disebut sebagai Kiai Miliarder Tapi Dermawan,” ujar Kiai Asep yang kini memiliki sekitar 14.000 santri sembari mengatakan b beasiswa itu untuk S1, S2 dan S3 di Universitas KH Abdul Chalim. Mereka gratis tempat tinggal, bebas uang pangkal, dan bahkan dapat makan.

Kiai Asep bercerita, b abahnya, KH Abdul Chalim pada 1914 belajar di Makkah bersama KH Abdul Wahab Hasbullah dan KH Asnawi Kudus. Mereka ini semua dikenal sebagai ulama pendiri NU.

Menurut Kiai Asep, saat Kiai Wahab berinisiatif mendirikan NU tak serta merta mendapat restu dari Hadratusyaikh KH Muhammad Haasyim Asy’ari. Butuh waktu 10 tahun restu dari Hadratussyaikh. Kiai Wahab harus bersabar. Karena tanpa restu Hadratussyaikh, Kiai Wahab tak mungkin mendirikan NU. Apalagi Kiai Wahab mendirikan NU agar dipimpin oleh Hadratussyaikh.

Saat proses penantian restu itulah Kiai Abdul Chalim berperan sebagai mediator antara Kiai Abdul Chalim dan Hadratussyaikh. Karena itu ketika NU berdiri, Hadratussyaikh menjadi Rais Akbar, Wakilnya KH Ahmad Dahlan Ahyad. Sedangkan Katib Awal KH Abd Wahab Hasbullah dan Katib Tsani KH Abdul Chalim.

Menurut Kiai Asep, NU didirikan untuk mengembangkan dan mendominasikan ajaran Ahlussunnah Wal Jemaah (Aswaja) sekaligus untuk perjuangan kemerdekaan bangsa Indonesia.

Pada tahun 50-an KH Zainal Muttaqin Ciparai Jawa Barat, seorang anggota DPR GR dari NU, mengumpulkan para pendiri Nahdlatul Ulama. Dalam kesempatan itu Kiai Abdul Wahab mengatakan b dari semua muassis atau pendiri Nahdlatul Ulama hanya Kiai Abdul Chalim yang belum punya pesantren.

“Sepontan, beliau (Kiai Abdul Chalim) mengatakan nanti anak saya yang akan punya pesantren besar,” ujar Kiai Asep.

Karena itu, ujar Kiai Asep, ketika ada orang bertanya siapa pendiri Pondok Pesantren Amanatul Ummah yang sekarang banyak menjadi rujukan pendidikan nasional.

“Saya selalu mengatakan pendirinya abah saya, bukan saya,” ujar Kiai Asep yang kini memperjuangkan KH M Yusuf Hasyim Tebuireng dan KH Abbas Abdul Jamil sebagai pahlawan nasional. KH Abdul Chalim telah ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada 10 Agustus 2023 oleh presiden.

Karena, tegas Kiai Asep, secara logika sangat tidak masuk akal. Baik saudara-saudara Kiai Asep maupun Kiai Asep sendiri saat itu tak ada potensi sebagai pendiri pesantren. Apalagi Kiai Asep sendiri secara ekonomi sangat miskin. Bahkan pernah menjadi kuli bangunan.

“Tapi itulah barangkali karomahnya seorang ulama,” ujarnya.

Selain memiliki Universitas KH Abdul Chalim yang sudah membuka program S3, Kiai Asep juga mengasuh empat pesantren. Yaitu Pesantren Amanatul Ummah di Jalan Siwalankerto Surabaya dan Pesantren Amanatul Ummah di Pacet Mojokerto, Jawa Timur.

Kiai Asep juga mengasuh Pondok Pesantren Amanatul Ummah 02 di Leuwimunding Majalengka Jawa Barat, dan Pesantren Amanatul Ummah di Kampung NU Humbang Raya Mentangai Kapuas Kalimantan Tengah. Pesantren yang terakhir ini baru dirintis dan berdiri di tengah hutan.

“Santri Kiai Asep tersebar di semua perguruan tinggi negeri di seluruh Indonesia seperti ITB, UI, ITS, IPB, Unhan, UGM, UIN, Unair, dan juga di berbagai perguruan tinggi luar negeri seperti di Mesir, Amerika, Australia, China, Maroko, Tunisia, Singapura, Malaysia, “ ujar Mas’ud Adnan saat menyampaikan paparan buku Kiai Miliarder Tapi Dermawan sembari mengatakan b pada tahun ajaran 2025 sebanyak 1.269 santri Amanatul Ummah lolos perguruan tinggi negeri dan luar negeri.

Sementara Prof Dr KH Usep Abdul Matin mengelaborasi NU lewat buku Muqaddimah Ibnu Khaldun. Menurut guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu ada empat tahapan peradaban versi Ibnu Kholdun. Yaitu lahir, tumbuh, jaya, dan runtuh.

Lalu NU berada dalam tahapan mana? Menurut Prof Usep, NU sudah lahir, tumbuh, dan jaya.

Bahkan, tutur Prof Usep, kader NU sudah pernah menjadi presiden RI. “Yaitu Kiai Abdurrahman Wahid,” ujar lulusan Leiden University Belanda itu.

Selain presiden, kata Prof Usep, kader NU juga pernah menjadi Wakil Presiden RI. Bahkan dua orang, yaitu KH Makruf Amin dan Hamzah Haz.

“Organisasi lain belum ada,” ujar Prof Usep yang juga lulusan Duke University (Fulbright) dan S3 dari Monash University.

Prof Usep juga menjelaskan tentang kiprah Kiai Abdul Chalim dalam NU. Menurut dia, Kiai Abdul Chalim aktif di Syarikat Islam sejak usia 16 tahun.

“Anggota termuda. Jadi betul-betul aktivis,” ujarnya.

Menurut Prof Usep, ketika KH Abdul Wahab memanggil untuk menggantikan Kiai Mas Manshur, Kiai Abdul Chalim berjalan kaki dari Leuwimunding Majalengka ke Surabaya.

“Dan itu dipuji oleh Kiai Wahab Hasbullah, inilah pemuda luar biasa,” ujar Prof Usep menirukan ungkapan Kiai Wahab Hasbullah.

“Karena itu kalau bapak ibu mau napak tilas, silakan berjalan kaki dari makamnya, dari Luewimunding ke Surabaya. Katanya pernah dicoba oleh banser, tapi tak kuat lalu naik bus,” ujar Prof Usep yang disambut tawa para kiai.

Acara silaturahim itu ditutup doa yang dipimpin Rais Syuriah Bandung Drs. KH. Khoiruddin Aly, M.Pd.I. Para kiai PWNU dan PCNU itu lalu foto bersama dengan Kiai Asep Saifuddin Chalim. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Lihat juga video 'Sedekah dan Zakat Rp 8 M, Kiai Asep Tak Punya Uang, Jika Tak Gemar Bersedekah':


Berita Terkait

BANGSAONLINE VIDEO