Desymbria Huri Addini (32), warga Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, Tulungagung, bersama orang tuanya.
Daftar Isi
TULUNGAGUNG, BANGSAONLINE.com - Program reaktivasi kepesertaan Penerima Bantuan Iuran Jaminan Kesehatan (PBI JKN) kembali memberi harapan bagi masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan berkelanjutan.
Kebijakan tersebut dirasakan manfaatnya oleh Desymbria Huri Addini (32), warga Desa Purworejo, Kecamatan Ngunut, yang berhasil mengaktifkan kembali kepesertaan JKN kedua orang tuanya demi melanjutkan pengobatan rutin.
Desi mengetahui kepesertaan orang tuanya tidak aktif saat hendak mengambil nomor antrean kontrol melalui Aplikasi Mobile JKN pada 26 Februari 2026.
“Saya mengetahui bahwa PBI orang tua saya non aktif saat akan mengambil antrean kontrol ibu. Di aplikasi Mobile JKN tertera status non aktif, kemungkinan terdampak penonaktifan di bulan Januari. Saat itu juga saya langsung berinisiatif melaporkan ke pihak desa,” paparnya saat dikonfirmasi, Rabu (1/4/2026).
Setelah melapor, pihak desa mengarahkan Desi melengkapi sejumlah persyaratan, termasuk surat rekomendasi dari Kecamatan Ngunut dan Surat Keterangan Dalam Perawatan (SKDP) dari fasilitas kesehatan tempat orang tuanya terdaftar. Berkas tersebut kemudian diproses melalui pemerintah desa hingga ke Dinas Sosial dan Kementerian Sosial.
Proses reaktivasi berjalan cepat
“Saya ajukan hari Senin, lalu hari Sabtu di minggu yang sama status kepesertaan ibu dan bapak sudah aktif kembali saat saya cek di Mobile JKN. Menurut saya prosesnya mudah, cepat, dan tidak berbelit-belit,” kata Desi.
Dijelaskan olehnya, selama menjadi peserta JKN, kedua orang tuanya tidak pernah mengalami kendala berarti dalam mengakses layanan kesehatan. Ibunya rutin kontrol di beberapa poli karena riwayat penyakit kompleks, sementara ayahnya mengikuti Program Rujuk Balik (PRB) dengan kebutuhan obat rutin.
“Ibu saya punya riwayat diabetes sejak 2023, lalu di tahun 2024 mengalami saraf terjepit dan gangguan di rahim, sehingga harus kontrol di poli saraf, orthopedi, dan obgyn. Sedangkan ayah saya ikut PRB karena asma dan sempat didiagnosis infeksi paru, jadi harus minum obat rutin,” ujarnya.
Menurut dia, keberadaan Program JKN sangat membantu keluarga dalam menghadapi beban biaya pengobatan.
“Saya sangat bersyukur pengobatan orang tua saya tidak pernah mengeluarkan biaya. Kalau harus berobat secara umum, mungkin orang tua saya memilih tidak berobat karena biayanya pasti besar,” tuturnya.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat penting bagi peserta JKN, khususnya segmen PBI, untuk rutin memeriksa status kepesertaan agar tidak terkendala saat membutuhkan layanan kesehatan.
“Buat peserta JKN, terutama yang PBI, sempatkan untuk rutin cek status kepesertaan supaya tidak terkendala saat butuh berobat,” ucap Desi. (fer/mar)

























