Menteri Haji dan Umrah RI, Mochamad Irfan Yusuf, dalam forum Saudi–Indonesian Umrah Co.Exchange di Makkah (16/2/2026). Foto: Dok. Kemenhaj.
Skema Murur memungkinkan lansia dan jemaah risti melintas di Muzdalifah tanpa turun dari bus, sehingga mengurangi beban fisik dan risiko gangguan kesehatan. Sementara untuk skema Tanazul, memberi opsi sebagian jemaah kembali lebih awal ke hotel setelah melontar jumrah guna mengurangi kepadatan tenda Mina.
“Murur dan Tanazul bukan hanya solusi teknis, tetapi bentuk keberpihakan pada jemaah rentan. Prinsipnya, ibadah harus sah sekaligus aman dan manusiawi,” ujar Menhaj.
Sebagai upaya penguatan, Indonesia juga mengusulkan kesiapsiagaan dukungan medis di jalur menuju Jamarat guna mempercepat respons dalam kondisi darurat saat puncak lempar jumrah.
“Kita ingin menggeser pendekatan dari reaktif menjadi preventif. Jangan menunggu jemaah sakit, tetapi pastikan mereka tetap sehat selama menjalankan ibadah,” pungkasnya.
Melalui penguatan istithaah kesehatan, optimalisasi skema Tanazul–Murur, serta koordinasi kesehatan lintas negara, Indonesia optimistis penyelenggaraan haji 2026 akan berlangsung lebih tertib, aman, dan berorientasi pada keselamatan serta kenyamanan jemaah. (msn)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News




